Sejarah Peristiwa Pertempuran Ambawara Tahun 1945

Sejarah Peristiwa Pertempuran Ambawara Tahun 1945

Pertempuran Ambawara (Sejak 26 Oktober 1945) - Ambarawa adalah kota yang terletak di wilayah Jawa Tengah, tepatnya di antara Kota Semarang dan Magelang, atau antara Semarang dan Solo.

Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di penjara Ambawara dan Magelang. Kedatangan Sekutu ini mulanya disambut baik. Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro bahkan menyepakati akan menyediakan bahan makanan serta bantuan lain yang diperlukan demi kelancaran tugas Sekutu. Sementara itu, pihak Sekutu berjanji tidak akan menganggu kedaulatan Republik Indonesia.

Akan tetapi, NICA yang membonceng pasukan Sekutu mempersenjatai para bekas tawanan tersebut. Hal ini menimbulkan kemarahan pihak Indonesia.

Konflik bersenjata tidak dapat dihindari. Bermula di Magelang pada tanggal 26 Oktober, pertempuran berlanjut antara tentara Sekutu dan Tentara Keamaan Rakyat (TKR). Pertempuran baru berhenti ketika Presiden Soekarno tiba di Magelang pada tanggal 2 November 1945 bersama-sama dengan Brigjen Berhell, yang kemudian menghasilkan sejumlah kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan pihak Sekutu.

Kesepakatan antara Indonesia dan Sekutu

Berikut ini 3 dari 12 butir kesepakatan antara Indonesia dan Sekutu

  • Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang dalam rangka menyelesaikan tugas pokoknya, yaitu mengurus para tahanan, tetapi dengan jumlah yang terbatas.
  • Jalan raya antara Magelang dan Semarang tetap terbuka bagi lalu lintas tentara sekutu dan masyarakat Indonesia.
  • Sekutu tidak akan mendukung aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada di bawah kekuasaannya.

Dalam kenyataannya, pihak Sekutu melanggar kesepakatan tersebut, salah satunya dengan nambah jumlah pasukannya di Magelang. Karena alasan tersebut, pada tanggal 20 November 1945 terjadi pertempuran antara TKR dan pasukan Sekutu di Ambarawa. Pasukan Sekutu yang berada di Magelang pun dikirim ke Ambarawa. Pasukan Sekutu menjatuhkan bom di desa-desa sekitar Ambarawa sehingga TKR terpaksa menarik pasukannya ke wilayah yang aman.

Pada tanggal 21 November 1945, datang bantuan TKR dari Purwokerto dan juga dari Yogyakarta. Merka mengepung Ambarawa dengan menduduki desa-desa di sekitar kota tersebut. Selanjutnya, pada tanggal 26 November 1945, pimpinan TKR dari Purwokerto, yang bernama Letnan Kolonel Isdiman gugur dalam pertempuran. Kedudukannya kemudian digantikan oleh atasannya langsung, yaitu Kolonel Soedirman.

Kehadiran Kol. Soedirman memberikan nafas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan diantara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musug semakin ketat. Siasat yang diterapkan adalah serangan mendadak di semua sektor. Sementara itu, bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain.

Yakin bahwa posisi tentara Sekutu di dalam kota mulai terdesak, pada tanggal 12 Desember 1945 Kolonel Soedirman memerintahkan untuk mengepung Ambarawa dari berbagai penjuru.

Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Kol. Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung.  Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa serta memaksa Sekutu menarik kembali pasukannya dari Ambarawa ke Semarang.


Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa. Selain itu, tanggal 15 Desember 1945 diperingati Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.

Read More
Pertempuran Medan Area (Latar Belakang, Penyebab, Kronologi)

Pertempuran Medan Area (Latar Belakang, Penyebab, Kronologi)

Pertempuran Medan Area (Sejak 13 Oktober 1945) - Pasukan Sekutu mendarat di Sumatera Utara pada tanggal 9 Oktober 1945. Sama dengan di tempat-tempat lain, awalnya kedatangan pasukan Sekutu disambut dengan baik oleh pemerintah Indonesia di Sumatera Utara. Gubernur Sumatera Utara Teuku Moh. Hasan mempersilahkan tim Relief of Allied of War and Interness (RAPWI), yang bertugas membantuk pembebasan para tawanan perang, untuk mendatangi tempat-tempat para tahanan berada, seperti di Pulu, Rantau Prapat, Pematang Siantar, dan Brastagi. Gubernur juga mengizinkan Sekutu untuk menempati beberapa hotel di Kota Medan.

Dalam kenyataannya, Sekutu dan NICA mempersenjatai para bekas tawanan ini serta membentuk Medan Batalyon KNIL dengan tugas utama: mengambil alih kekuasaan di Kota Medan. Hal ini menimbulkan konflik dengan TKR dan barisan Barisan Pemuda Indonesia (BPI) pimpinan Achmad Tahir.

Awal Mula Pertempuran Medan Area

Insiden pertama terjadi pada tanggal 13 Oktober 1945, di Hotel Bali Medan. Insiden bermula ketika seorang penghuni hotel merampas dna menginjak-injak lencana merah putih yang dipakai oleh warga setempat. Hotel tersebut kemudian diserbu para pemuda. Sebanyak 96 orang tewas dalam insiden tersebut, sebagian besar orang-orang NICA.

Setelah kejadian tersebut, pasukan Sekutu (Inggris) mengultimatum para pemuda dan rakyat di Kota Medan agar menyerahkan senjatanya kepada Sekutu. Sementara itu, NICA mulai melakukan aksi-aksi teror kepada rakyat. Ultimatum ini tidak dihiraukan, dan sebaliknya malah semakin mengobarkan semangat perlawanan penduduk.

Lama kelamaan, pihak Sekutu dan NICA terdesak. Hal ini disebabkan pemuda dan TKR sering berhasil menghadang serta menyerbu pasukan Sekutu yang sedang melakukan patroli.

Dalam rangka membatasi gerak maju serta penghadangan para pemuda, Pada tanggal 1 Desember 1945, Sekutu memasang papan yang tertuliskan  Fixed Boundaries Medan Area (batas resmi wilayah Medan) di berbagai pinggiran Kota Medan. Tulisan ini semacam "garis polisi", yang diyakini akan menghambat gerak maju serta serbuan para pemuda dan TKR terhadap pasukan Sekutu. Karena tulisan inilah, wilayah yang menjadi markas Sekutu di Kota Medan dikenal sebaga Medan Area.


Pada tanggal 10 Desember 1945, pasukan Inggris bersama-sama dengan NICA berusaha menghancurkan konsentrasi TKR di Trepes. Namun, usaha ini berhasil digagalkan. Bahkan dalam insiden ini, para pemuda dan TKR berhasil menculik seorang perwira Inggris serta menghancurkan sejumlah truk pengakut tentara mereka. Pada tanggal 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak koraban jiwa di kedua belah pihak.

Pada bulan April 1946, tentara Inggris mendesak agar pemerintah Republik Indonesia keluar dari Kota Medan. Gubernur, wali kota, dan markas TKR pun terpaksa pindah ke Pematang Siantar. Untuk melanjutkan perjuangan di Medan, pada bulan Agustus 1946 dibentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komando ini terus mengadakan serangan terhadap Sekutu di wilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatera terjadi perlawanan rakyat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda, seperti di Padang, Bukittinggi, dan Aceh.

Di Aceh, misalnya, tentara Sekutu menggerakkan tentara Jepang untuk menghadapi perlawanan para pejuang. Pertampuran yang kemudian lebih dikenal dengan peristiwa Kurang Panjo Bireuen tak terhindarkan.

Selanjutnya, Sekutu mengirim lagi pasukan Jepang dari Sumatera Timur, sehingga pecah lagi petempuran di Kuala Simpang (Aceh Tamiang). Perlawanan di Kuala Simpang ini dipimpin langsung oleh residen Tekuku Nyak Arif. Pasukan Jepang yang dipakai Sekutu akhirnya berhasil dikalahkan.

Selain di Medan, wilayah Sumatera lainnya yang melakukan perlawanan besar-besaran terhadap sekutu terjadi di Palembang. Pemicunya sama yaitu Sekutu membantu misi NICA mengambil alih kekuasaan di Indonesia.

Read More
Pelucutan Senjata dan Pengambilalihan Aset Jepang

Pelucutan Senjata dan Pengambilalihan Aset Jepang

Dipelopori para pemuda, bangsa Indonesia melucuti tentara-tentara Jepang, merebut persenjataannya, serta menguasai gedung-gedung penting yang dikuasai Jepang. Di Surabaya, misalnya, para pemuda merebut gudang mesiu, markas pertahanan, pangkalan angkatan laut di Ujung, serta pabrik-pabrik yang tersebar di berbagai kota.

Tujuan dilakukannya pelucutan persenjataan Jepang, diantaranya adalah untuk mendapatkan modal perang, mencegah senjata Jepang agar tidak jatuh ke tangan sekutu, dan mencegah agar senjata Jepang tidak digunakan untuk membunuh Rakyat. Pelucutan senjata dari para tentara Jepang tidak dilakukan di satu tempat saya melainkan di seluruh kota di Indonesia yang menjadi pusat jajahan Jepang dulu. Tindakan heroik ini dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Berikut diantaranya.

1. Pelucutan Senjata Jepang di Surabaya
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 19 September 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh tindakan orang-orang Belanda yang sebelumnya menjadi bekas Jepang menduduki Hotel Yamato (Surabay) serta mengibarkan bendera Belanda yang bewarna merah, putih, dan biru di puncak hotel tersebut. Tindakan ini dibantu oleh sekelompok tentara sekutu..

Rakyat Surabaya yang menyaksikan berkibarnya bendera tersebut geram. Maka, untuk menghindari konflik, residen Sudirman meminta orang-orang Belanda untuk menurunkan bendera tersebut. Akan tetapi permintaan tersebut ditolak.

Para pemuda kemudian menyerbu hotel tersebut. Dua orang pemuda bahkan berhasil naik ke puncak hotel dan menurunkan bendera. Setelah itu, bagian biru bendera tersebut dirobek sehingga yang tersisa adalah bendera bewarna merah dan putih. Bendera merah-putih tersebut dikibarkan ditempat yang sama.


Tidak hanya sampai disitu, para pejuang ini kemudian merebut kompleks penyimpanan senjata dan pemancar radio di Embong, Malang. Dan pada tanggal 1 Oktober 1945, rakyat merebut Markas Kempetai (polisi rahasia) yang dianggap sebagai lambang kekejaman Jepang.

2. Pelucutan Senjata Jepang di Yogyakarta
Di kota ini, perebutan kekuasaan secara serentak dimulai pada tanggal 26 September 1945. Diawali dengan pemogokan dari semua pegawai pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang dikuasai oleh Jepang. Mereka memaksa Jepang untuk menyerahkan semua kantor dan perusahaan tersebut kepada pemerintah Republik Indonesia.

Sementara itu, para pemuda yang bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) berusaha melucuti senjata dari para tentara Jepang dengan menyerbu tangsi Otsuka Butai di Kota Baru. Meskipun berhasil menguasai tangsi tersebut, beberapa pemuda gugur, di antaranya A.M. Sangaji dan Faridan M. Noto

3. Pelucutan Senjata Jepang di Banda Aceh
Pada tanggal 6 Oktober 1945, para pemuda Banda Aceh dan para tokoh masyarakat membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API). Pada tanggal 12 Oktober 1945, pimpinan tentara Jepang memanggil para API. Dalam pertemuan tersebut, pimpinan tentara Jepang menyatakan bahwa, meskipun Jepang telah kalah, keamanan masih menjadi tanggung jawab mereka sampai datangnya tentara sekutu ke Indonesia. Oleh karena itu, Jepang menegaskan bahwa semua kegiatan mendirikan perkumpulan apalagi tanpa izin harus dihentikan, sedangkan yang sudah terlanjur didirikan harus dibubarkan.

Namun, para tokoh dan para pemuda menolak hal tersebut sehingga terjadilah bentrokan yang terus melebar ke tempat-tempat lain seperti di Langsa, Lho'Nga, Ulee Lheue, dan lain-lain. Para pemuda mengambil alih kantor-kantor pemerintahan Jepang, melucuti senjatanya serta mengibarkan bendera merah-putih.

4. Pelucutan Senjata Jepang di Sumatera Selatan
Perebutan kekuasaan di Sumatera Selatan terjadi pada tanggal 8 Oktober 1945. Peristiwa tersebut berawal ketika residen Sumatera Selatan dr. Abdul Karim Gani bersama seluruh pegawai pemerintahan melakukan upacara dengan mengibarkan bendera merah-putih. Diumumkan juga dalam upacara itu bahwa mulai saat itu, seluruh Karesidenan Palembang hanya akan tunduk kepada pemerintah Republik Indonesia. Perebutan kekuasaan di Palembang tidak menimbulkan korban karena orang-orang Jepang di wilayah ini bersikap menghindari pertumpahan darah.

5. Pelucutan Senjata Jepang di Semarang
Peristiwa ini lebih dikenal dengan "Pertempuran Lima Hari Semarang" karena berlangsung selama 5 hari, yaitu pada tanggal 14-20 Oktober 1945. Pertempuran ini berawal ketika para pemuda membawa sekitar 400 orang tawanan Jepang dari pabrik gula Cepiring menuju Penjara Bulu di Semarang. Sebelum sampai di penjara tersebut, sebagian tawanan melarikan diri dan meminta perlindungan ke Batalyon Kidobutai di Jatingaleh (Jawa Tengah).

Tidak lama kemudian muncul desas-desus yang meresahkan penduduk bahwa Jepang telah meracuni cadangan air minum penduduk di Candi. Untuk membuktikan hal tersebut, dr. Karyadi sebagai kepala laboratorium pusat melakukan pemeriksaan. Saat sedang memeriksa sumber air tersebut, ia ditembak mati oleh tentara Jepang. Saat ini, namanya diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit terkenal di Kota Semarang.

Peristiwa ini memicu kemarahan pada pemuda. Pada tanggal 14 Oktober, mereka menyerbu kantor-kantor pemerintah serta menangkap dan menawan setiap orang Jepang yang mereka jumpai. Jepang membalas keesokan harinya. Keluar dari tangsi mereka di Jatingaleh, Jepang mencari dan menyerang pos-pos para pemuda. Pertempuran berlangsung selama 5 hari, yaitu sejak tanggal 15-20 Oktober. Korban tewas berjatuhan dari kedua belah pihak adalah 2.000 rakyat semarang dan 100 orang Jepang.

Pertempuran baru berakhir ketika pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) berunding dengan pasukan Jepang. Upaya perdamaian berhasil dipercepat setelah pasukan Sekutu (Inggri) mendarat di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Pasukan Sekutu menawan serta melucuti senjata Jepang.

Monumen Tugu Muda di Semarang yang berdiri saat ini dimaksudkan untuk mengenang tindakan heroik para pemuda Indonesia melawan Jepang.

6. Pelucutan Senjata Jepang di Kalimantan
Di kalimantan, dukungan Proklamasi Kemerdekaan dilakukan dengan mengibarkan bendera merah-putih serta mengadakan rapat-rapat. Pada tanggal 14 November 1945, sekitar 8.000 orang dengan gagah berani berkumpul di komplek NICA sambil mengarak bendera merah-putih.

7. Pelucutan Senjata Jepang di Sulawesi
Para pemuda mendukung gubernur Sulawesi, Dr. Sam Ratulangi dengan merebut gedung-gedung vital dari tangan polisi Jepang. Di Gorontalo, misalnya, pada pemuda berhasil merebut senjata dari markas-markas Jepang pada tanggal 13 September 1945.

8. Pelucutan Senjata Jepang di Sumbawa
Pada bulan Desember 1945, rakyat Sumbawa berusaha merebut pos-pos militer Jepang di Gempe, Sape, dan Raba. Pada tanggal 13 Desember, para pemuda serentak menyerang pos-pos tersebut.

Read More
Hasil Sidang PPKI 1, 2, 3 Lengkap (18, 19, 22 Agustus 1945)

Hasil Sidang PPKI 1, 2, 3 Lengkap (18, 19, 22 Agustus 1945)

Pembentukan pemerintah Indonesia dalam sidang PPKI (18-22 Agustus 1945) - Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI atau Dokurtsu Junbi Cosakai dibubarkan oleh Jepang karena dianggap terlalu cepat mewujudkan kehendak Indonesia merdeka dan mereka menolak adanya keterlibatan pemimpin pendudukan Jepang dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal itu pula dibentuk PPKI atau Dokuritsu Junbi Inkai, dengan anggota berjumlah 21 orang terdiri dari 12 orang dari Jawa, 3 orang dari Sumatra, 2 orang dari Sulawesi, 1 orang dari kalimantan, 1 orang dari Nusa Tenggara, 1 orang dari Maluku, dan 1 orang dari Tionghoa.

Baca: Sejarah Pembentukan PPKI

Setelah proklamasi kemerdekaan, PPKI menggelar sidang, yang berlangsung dari tanggal 18-22 Agustus. Sidang PPKI ini merupakan kelanjutan dari sidang-sidang yang telah diselenggarakan sebelumnya oleh BPUPKI pada tanggal 10-16 Juli 29145 yang telah membahas dan menghasilkan rancnagan undang-undang dasar.

Hasil Sidang Pertama PPKI: Mengesahkan Undang-Undang Dasar serta Memilih Presiden dan Wakil Presiden

Pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI menggelar sidang. Sidang ini sekaligus menjadi sidang pertama PPKI setelah dibentuk pada pada Jepang. Pada hari pertama ini, sidang berhasil mengeluarkan beberapa keputusan, yaitu:
  1. Mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi negara (yang kemudian dikenal dengan sebutan Undang-Undang Dasar 1945).
  2. Memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil presiden. Itu berarti, Indonesia menerapkan sistem pemerintahan presidensial.
  3. Presiden untuk sementara waktu akan dibantu oleh sebuah komite nasional.

Sebelum disahkan, terdapat beberapa perubahan dalam Undang-Undang Dasar itu, yaitu:
  1. Kata "Muqaddimah" diubah menjadi "Pembukaan".
  2. Pembukaan alenia keempat anak kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" saja.
  3. Pembukaan alenia keempat anak kalimat "Menurut kemanusiaan yang adil dan beradab" diubah menjadi "Kemanusiaan yang adil dan beradab".
  4. Pasal 6 ayat (1) yang semula berbunyi "Presiden ialah orang Indonesia Asli dan beragama Islam" diubah menjadi "Presiden adalah orang Indonesia Asli".

Perubahan-perubahan tersebut terjadi setelah tokoh-tokoh dari Indonesia yang beragama kristen, khususnya yang berasal dari Indonesia timur, mengajukan keberatan terhadap rumusan lama yang terlalu bernuansa Islam. Dengan jiwa besar serta dilandasi semangat untuk menjaga persatuan bangsa, para tokoh Islam berjiwa besar untuk mengubah kata atau kalimat yang terlalu bernuansa Islam tersebut. Dengan disahkannya Undang-Undang Dasar, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia telah memiliki sebuah landasan konstitusional.


Sementara itu, pemilihan kedua tokoh ini dilakukan secara aklamasi atas usulan Otto Iskandardinata. Selanjutnya, sebelum sidang hari pertama ditutup, Presiden menunjuk 9 orang anggota sebagai panitia kecil dengan Otto Iskandardinata sebagai ketuanya. Tugas panitia kecil adalah membahas hal-hal yang meminta perhatian mendesak, seperti pembagian wilayah negara, kepolisian, tentara kebangsaan, dan perekonomian.

Hasil Sidang Kedua PKI: Pembentukan Kementrian dan Pembagian WIlayah

Pada sidang hari kedua, yaitu tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan membentuk 12 departemen, menunjuk para pejabat departemen, serta menetapkan wilayah Republik Indonesia meliputi delapan provinsi sekaligus menunjuk gubernurnya:
  1. Jawa Barat : Mas Suratdjo Kertohadikusumo
  2. Jawa Tengah : Raden Panji Suroso
  3. Jawa Timur : Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo
  4. Borneo (Kalimantan) : iR. Mohammad Noor
  5. Sulawesi : dr. Sam Ratulangi
  6. Maluku : Mr. Johannes Latuharhary
  7. Sunda Kecil (Nusa Tenggara) : Mr. I Gusti Ketut Pudja
  8. Ssumatera : Mr. Teuku Moh. Hassan

Di luar itu, masih ada tambahan dua daerah istimewa, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Selanjutnya, ditetapkan juga adanya 12 kementrian dalam kabinet dan lembaga negara. Karena sistem kabinet tercantum dalam Undang-Undang Dasar adalah kabinet yang tercnatum dalam Undang-Undang Dasar adalah kabinet presidensial, pembentukan kabinet menjadi hak prerogatif presiden.

Pada tanggal 2 September 1945, bertempat di Hotel Miyako (Des Indes), Presiden Soekarno melantik kabinet pertama Republik Indonesiam, yang terdiri atas 12 menteri departemen, 4 menteri negara, dan 4 pejabat negara.

Inilah kabinet presidensial pertama Republik Indonesia. Berikut ini susunan kaninetnya.
  1. Menteri Dalam Negeri : R.A.A. Wiranatakusuma
  2. Menteri Luar Negeri : Mr. Achmad Soebardjo
  3. Menteri Keuangan : Mr. A.A. Maramis
  4. Menteri Kehakiman : Ir. Surachman Cokrodisuryo
  5. Menteri Keamanan Rakyat : Supriyadi
  6. Menteri Pengajaran : Ki Hajar Dewantara
  7. Menteri Penerangan : Mr. Amir Syarifuddin
  8. Menteri Sosial Mr. Iwa Kusumasumantri
  9. Menteri Pekerjaan Umum : Abikusno Tjokrosuyoso
  10. Menteri Kesehatan : dr. Boentaran Martoatmodjo
  11. Menteri Perhubungan (ad interim) : Abikusno Cokrosuyoso
  12. Menteri Kemakmuran : Ir. D.P. Surahman

Empat menteri negara terdiri dari Wahid Hasyim, dr. M. Amin, Mr. R.M. Sartono, dan Otto Iskandardinata. Sementaraitu, empat pejabat negara terdiri dari:
  1. Ketua Mahkamah Agung : Mr. dr. Kusumah Atmaja
  2. Jaksa Agung : Mr. Gatot Tarunomiharjo
  3. Sekretaris Negara : Mr. A.G. Pringgodigdo
  4. Juru Bicara : Sukarjo Wiryo Pranoto

Hasil Sidang Ketiga PPKI: Membentuk Tiga Badan Baru (KNI, PNI, dan BKR)

Pada sidang hari ketiga, yaitu pada tanggal 22 Agustus 1945, presiden memutuskan berdirinya tiga badan baru, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dengan terbentuknya tiga badan ini, PPKI kemudian dibubarkan.

Pembentukan Komite Nasional Indonesia
Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) merupakan badan pembantu dan penasihat Presiden, yang keanggotaannya terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat dari berbagai golongan dan daerah termasuk mantan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jumlahnya mencapai 137 orang.

Anggota KNIP kemudian dilantik di gedung kesenian Pusar Baru pada tanggal 29 Agustus 1945 dengan susunan pengurus adalah sebagai berikut.
  • Ketua : Kasman Singodimedjo
  • Wakil Ketua I : M. Sutarjo Kartohadikusumo
  • Wakil Ketua II : Johannes Latuharhary
  • Wakil Ketua III : Adam Malik

Dalam perkembangan selanjutnya, KNIP memiliki wewenang legislatif, yang ditetapkan dalam rapat pertama KNIP tanggal 16 Oktober 1945. Oleh karena itu, KNIP diakui sebagai cikal bakal badan legislatif di Indonesia, dan tanggal pembentukan KNIP yaitu 29 Agustus 1945 diresmikan sebagai hari jadi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Partai Nasional Indonesia
Pada awalnya pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI) bertujuan menjadikannya sebagai partai tunggal di Indonesia. Tujuan PNI seperti yang disebutkan dalam risalah sidang PPKI adalah mewujudkan Negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil dan makmur berdasarkan kedaulatan rakyat.

Susunan pengurusnya adalah sebagai berikut: Ir. Soekarno, pemimpin kedua adalah Drs. Moh. Hatta, dan dewan pimpinan lainnya terdiri atas Mr. Gatot Tarunamiharja, Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. A.A Maramis, Sayuti Melik, dan Mr. Sujono.

Badan Keamanan Rakyat
Badan ini bertugas menjaga kemanan rakyat. Dalam badan ini terhimpun unsur-unsur bekas anggota Peta, Heiho, Polisi, Seinendan, dan Keibodan. Awalnya, BKR dibentuk bukan sebagai kesatuan militer yang resmi. Hal itu untuk menghindari permusuhan dengan kekuatan-kekuatan asing yang masih ada di Indonesia.

Akan tetapi, ketegangan politik yang terjadi pada bulan September menyadarkan pemerintah bahwa BKR tidak cukup untuk mempertahankan negara dari serangan musuh. Pada pertengahan bulan itu, tepatnya tanggal 16 September 1945, angkatan perang Inggris yang tergabung dalam South East Asian Commad (SEAC) mendarat di Jakarta.

Inggris melakukan tekanan kepada jepang untuk tidak menyerahkan kekuasaan kepada Indonesia. Selang beberapa wkatu kemudian, mendarat juga tentara Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dan dibonceng oleh pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pada tanggal 29 September 1945.

Kedatangan pasukan membuat para pemuda terpanggil untuk ikut serta mengangkat senjata dan mendirikan berbagai anggota kelaskaran pemuda seperti Hizbullah, Pemuda Indonesia Maluku, Angkatan Pemuda Indonesia (API), dan Pemuda Republik Indonesia di Aceh. Organisasi-organisasi ini memiliki satu tujuan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Maka, terjadi pertempuran yang sengit antara Sekutu dan para pemuda Indonesia.

Meskipun demikian, keadaan bertambah buruk. Pemerintah Indonesia sar bahwa sulit mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara tanpa memiliki angkatan perang. Maka melalui maklumat pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Selanjutnya melalu maklumat tanggal 16 Oktober 1945, Supriyadi, pemimpin perlawanan PETA di Blitar, diangkat sebagai menteri keamanan Rakyat.

Read More
Contoh Teks Negosiasi Beserta Strukturnya di Sekolah

Contoh Teks Negosiasi Beserta Strukturnya di Sekolah

Dalam kehidupan sehari-hari pastinya banyak ditemui berbagai interaksi sosial, salah sataunya adalah interaksi yang berupa negosiasi. Negosiasi sendiri tidak hanya berbentuk lisan, akan tetapi juga berbentuk tulisan. Jadi apa yang dimaksud dengan teks negosiasi, struktur negosiasi dan contoh teks negosiasi. Berikut penjelasan dan contoh diantaranya.

Negosiasi merupakan cara terbaik di dalam menyelesaikan suatu masalah dan mencari jalan keluat di antara kedua belah pihak yang berkepentingan guna mendapat suatu kesepakatan yang bisa disetujui bersama. Negosiasi merupakan hal yang harus dilakukan jika ingin menghasilkan kesepakatan tanpa merugikan antara kedua belah pihak yang berunding bersama.

Teks Negosiasi adalah sebuah teks dengan bentuk interaksi sosial didalamnya yang berfungsi untuk mendapatkan kesepakatan bersama di antara pihak yang memiliki perbedaan pendapat, tujuan atau kepentingan. Pihak-pihak tersebut berusaha untuk menyelesaikan berbagai perbedaan dengan cara yang baik tanpa ada pihak yang dirugikan. Di dalam negosiasi, baik secara lisan maupun tertulis, di dalamnya terdapat pengajuan, penawaran dan persetujuan.

Struktur Teks Negoisasi

Seperti halnya teks lainnya, teks negosiasi juga mempunyai struktur yang membangun teks negosiasi. Berikut struktur teks negosiasi:

Orientasi adalah bagian pembuka atau pengenala antara kedua belah pihak yang akan berunding bersama. Orientasi biasanya berisi salam pembuka atau pertanyaan mengenai suatu hal yang akan dirundingkan.

Permintaan adalah bagian penjelas mengenai apa yang akan diinginkan oleh salah satu pihak yang bisa berupa barang atau jasa yang diinginkan/dibutuhkan.

Pemenuhan adalah bagian penjelas mengenai orang yang dimintai (penjual atau penyedia jasa) dalam menyediakan barang atau jasa.

Penawaran adalah bagian puncal dari proses negosiasi, karena terjadi proses tawar-menawar antara pihak satu dengan pihak yang lain untuk mendapatkan sebuah kesepakatan yang menguntungkan antara kedua pihak.

Persetujuan adalah bagian dimana kedua belah pihak menyatakan setuju, menyetujui, dan sepakat akan berundingan yang terjadi.

Penutup adalah bagian akhir dari negosiasi yang biasanya berupa salam penutup dan juga ucapan terima kasih antara kedua belah pihak.

Baca juga: Contoh Teks Negosiasi Kerjasama Antar Perusahaan

Contoh Teks Negosiasi Beserta Strukturnya

Berdasarkan setruktur teks negosiasi tersebut, berikut salah satu contoh teks negosiasi di lingkungan sekolah antara siswa OSIS dan Kepala Sekolah beserta strukturnya.


Orientasi
Asdan : "Selamat pagi Pak." (sambil mengetuk pintu ruang kepala sekolah)
Kepala Sekolah : "Pagi. Silahkan masuk!"
Asdan : "Terima kasih, Pak." (sambil memasuki ruangan)
Kepala Sekolah : "Silahkan dudu! Ada yang dapat saya bantu?"
Asdan : "Saya Asdan, Ketua OSIS. Saya mewakili teman-teman ingin membicarakan suatu hal Pak."
Kepala Sekolah : "Hal apakah apa yang ingin dibicarakan, Dan?"

Permintaan
Asdan : "Begini, Pak. Kami para pengurus OSIS telah berunding ingin mendirikan koperasi sekolah yang nantinya akan dikelola oleh secara mandiri, Pak."
Kepala Sekolah : "Oh, begitu ya."
Asdan : "Iya, Pak. Saya sebagai perwakilan pengurus OSIS yang ditunjuk untuk menemui Bapak untuk meminta persetujuan pendirian koperasi sekolah tersebut."
Kepala Sekolah : "Saya ingin tahu, atas dasar apa kalian ingin mendirikan koperasi sekolah?"

Pemenuhan
Asdan : "Menurut kami, dengan mendirikan koperasi sekolah, para siswa dapat melatih keterampilan dalam ekonomi. Selain itu, koperasi sekolah juga memudahkan siswa dalam membeli perlengkapan sekolah tanpa harus keluar sekolah, Pak."
Kepala Sekolah : "Oh, iya, bagus itu. Tteapi masalahnya semua ruangan sekolah ini sudah digunakan. Lalu di mana nantinya tempat koperasi itu?"
Asdan : "Kami berencana akan mendirikan koperasi sekolah di sebelah ruang olahraga yang sudah tidak terpakai itu, Pak."
Kepala Sekolah : "Itu ide yang bagus. Namun, dari mana kalian memperoleh modal awal untuk mendirikan koperasi sekolah?"
Asdan : "Untuk modal awal, kami memperkirakan, sekitar tiga juga rupiah. Bagaimana pendapat Bapak?"

Penawaran
Kepala Sekolah : "Saya rasa untuk permulaan, modal itu terlalu besar. Bagaimana kalau setengahnya dulu, sekitar satu setengah juta rupiah?"
Asdan : "Tapi dana itu sebenarnya sudah sangat minim, Pak."
Kepala Sekolah : "Ya sudah, begini saja karena dana untuk pembangunan dari pemerintah masih tersisa dua juta rupiah, silahkan digunakan untuk modla awal koperasi ini."
Asdan : "Apakah sudah tidak ada dana lagi. Pak?"
Kepala Sekolah : "Ada, tapi dana tersebut sudah dialokasikan untuk bidang yang lain. Saya menyarankan bagaimana kalau sisanya kalian mencarinya dengan mencari dana dari teman-teman kalian?"

Persetujuan
Asdan : "Baiklah, Pak. Nanti kami akan berdiskusi kembali untuk memenuhi dana kekurangannya."
Kepala Sekolah : "Ya, kalau begitu segeralah membuat proposalnya dan bahwa kepada saya jika sudah siap."
Asdan : "Siap, Pak. Saya mengucapkan terima kasih sebelumnya atas pengertian Bapak."
Kepala Sekolah : "Ya, sama-sama. Saya juga merasa senang kalian memiliki ide kreatif tersebut."

Penutup
Asdan : "Terima masih, Pak. Selamat pagi." (sambil bersalaman)
Kepala Sekolah : "Selamat pagi".

Nah, itulah contoh teks negosiasi beserta strukturnya yang dapat saya bagikan untuk Anda. Contoh teks di atas juga bisa Anda edit atau ubah sesuai keinginan. Demikian artikel yang dapat saya bagikan tentang contoh teks negosiasi beserta strukturnya dan semoga bermanfaat.

Read More
Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno

Penyusunan Naskah Proklamasi - Pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945, Laksamana Maeda mengantar Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke kediaman Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Pemerintahan Militer Jepang (Gunseikan) di Hindia-Belanda. Ia tidak mau menerima Soekarno-Hatta dan lantas memerintahkan Mayor Jenderal Otoshi Nnishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima mereka. Nishimura memberi kabar mengajutkan, bahwa Tokyo tidak mengizinkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebab perjanjian kapitulasi menyatakan Jepang menjaga status quo di semua negara yang didukinya.

Soekarno dan Moh. Hatta tidak menghiraukan Nishimura dan langsung bergegas menuju rumah Laksamana Maeda Tadashi di Jalan Imam Bonjol No.1 guna melakukan rapat menyiapkan teks Proklamasi. Turut bersama mereka Achmad Soebardjo,  Soekarni, Burhanudin Muhammad Diah (B.M. Diah), Sudiro, dan Sayuti Melik.

Perumusan naskah proklamasi dilakukan di ruang tengah dengan meja melingkar. Tampak dalam diorama tersebut Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebardjo sedang berdiskusi. Soekarno menuliskan naskah proklamasi, sedankan Moh. Hatta dan Achmad Soebardjo menyumbangkan ide secara lisan.

Setelah naskah selesai dibuat, Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetiknya. Sayuti melik mengetik naskah proklamasi di ruangan bawah tangga ditemani B.M. Diah. Tadinya, Sayuti Melik akan menggunakan mesin tik milik Laksamana Maeda, namun tidak jadi karena mesin tik itu menggunakan huruf kanji. Mesin tik pun dipinjam dari Konsulat Jerman.

Naskah yang diketik kemudian dibubuhi tanda tangan. Soekarno menyarankan agar semua tokoh yang hadir dapat membubuhkan tanda tangan. Namun, kemudian diputuskan hanya Soekarno dan Hatta yang mendatangani naskah proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Naskah proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta di atas Piano milik Laksamana Maeda.

Usai penandatanganan, mereka merundingkan lokasi pelaksanaan proklamasi. Semula disepakati proklamasi akan dilaksanakan di lapangan Ikada Jakarta. Namun, Soekarno khawatir pelaksanaan proklamasi di tempat tersebut akan memicu bentrokan dengan tentara Jepang.

Baca: Sejarah Perumusan atau Pembuatan Teks Proklamasi

Maka, akhirnya disepakati upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di halaman rumah Soekarno, yaitu di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, atau sekarang di Jln. Proklamasi No. 1, pada pukul 10.000 WIB.

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno

Sejak pagi hari Jumat, tanggal 17 Agutus 1945, rumah Soekarno telah dipenuhi dengan sejumlah pemuda. Mereka berbaris dengan tertib menunggu pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Para pemimpin bangsa baik dari golongan tua maupun golongan muda berdatangan ke lokasi tersebut. Tanggung jawab keamanan lokasi diserahkan kepada anak buah Cudanco Latief Hendraningrat. Tiang bendera yang terbuat dari sebatang bambu yang telah disiapkan oleh Cudanco Suhud ditancapkan di halaman rumah Soekarno itu. Di tiang sederhana inilah bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati akan dikibarkan.


Pada pukul 10.00 WIB, pembacaan naskah proklamasi dimulai. Sebelum membacakan naskah proklamasi, Soekarno terlebih dahulu menyampaikan pidato pengantar yang secara lengkapnya berbunyi sebagai berikut.

"Saudara saudara sekalian! Saya sudah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombang aksi kita untuk meraih kemerdekaan kita itu ada naik dan turunnya, tetapi jiwa kita menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam jaman Jepang usaha kita untuk meraih kemerdekaan nasional tidak henti-henti. Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakikatnya tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Pemusyawaratan itu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu. Dengarlah proklamasi kami:

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun '05

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita! Negara merdeka, Negara Republik Indonesia, merdeka kekal dan abadi. Insya Allah Tuhan memberkati kita."

Setelah pembacaan teks Proklamasi selesai, Sudanco Suhud dan Latief Hendraningrat didaulat untuk mengibarkan bendera merah putih. Pada saat bendera dikibarkan, semua yang hadir secara spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saat ini, bendera pusaka tersebut disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional, Jakarta. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan wali kota Jakarta pada saat itu dijabat oleh Soewirjo, dan sambutan pimpinan Barisan Pelopor, dr. Muwardi.

Peristiwa penting yang hanya berlangsung selama kurang lebih satu jam ini telah membawa perubahan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia karena proklamasi kemerdekaan itu memiliki makna sebagai berikut.
  • Merupakan titik puncak perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.
  • Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan.
  • Negara Republik Indonesia lahir.

Nah, itulah sejarah perumusan dan pembacaan teks proklamasi kemerdekana Indonesia oleh Ir. Soekarno. Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai sejarah proklamasi kemerdekaan dan semoga bermanfaat.

Read More
Gambar Lapangan Bola Voli Beserta Ukurannya Lengkap

Gambar Lapangan Bola Voli Beserta Ukurannya Lengkap

Gambarkan Lapangan Bola Voli Beserta Ukurannya - Bola voli adalah cabang permainan olahraga bola besar yang dimainkan oleh 2 tim dalam satu lapangan, dimana setiap tim atau regu memiliki 6 pemain ditambah dengan 5 pemain cadangan dan satu pemain yang berposisi sebagai libero. Dalam permaianan bola voli satu tim terdiri dari 12 pemain, satu coach, satu sistem coach, satu trainer dan juga satu dokter medis sebagai penanganan pertama jika terjadi hal yang tidka di inginkan.

Dalam satu tim (kecuali liberi), satu dari para pemain adalah kapten tim yang diberi tanda dalam score sheet. Hanya pemain yang terdaftar dalam score sheet yang dapat memasuki lapangan dan bermain. Pada saat coach dan kaptem mendatangani score sheet, pemain yang terdaftar tidak dapat diganti. Dalam permainan bola voli tentunya harus ada lapangan yang digunakan untuk bermain atau menjalankan permainan.

Lapangan bola voli memiliki standart ukuran tertentu bila bermain secara nasional maupun internasional. Untuk ukuran lapangan bola voli baik di tingkat nasional dan internasional memiliki ukuran yang sama, dan tidak ada perbedaan. Berikut gambar lapangan bola voli beserta ukurannya lengkap dengan ukuran NET dan juga bola voli.

Gambar dan Ukuran Lapangan Bola Voli


Berikut ukuran lapangan standart bola voli baik nasional (lokal) maupun internasional:
  • Panjang lapangan bola voli adalah 18 meter
  • Lebar lapangan bola voli adalah 9 meter
  • Panjang garis serang lapangan bola voli adalah 3 meter
  • Luas lapangan bola voli adalah 162 162 meter² (18m x 9m)
  • Lebar lapangan bola voli adalah 5 centimeter
  • Area service lapangan bola voli adalah 3 meter.

Dalam permainan Bola Voli lapangan yang digunakan berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 18 meter dan lebar lapangan 9 meter, yang masih dibagi ke dalam dua bagian yang sama dengan ukuran masing-masing 9 x 9 meter dengan NET sebagai pembatas tengah lapangan. Masing-masing lapangan terdiri dari atas daerah serang dan daerah pertahanan.

Lapangan bola voli memiliki garis sebagai penanda batas lapangan, dengan ukuran yang berbeda-beda. Garis batas lapangan, garis tengah, dan garis daerah serang memiliki ukuran 3 meter (daerah depan). Garis pembatas bola voli biasanya diberi batas dengan tali, cat/kapur, atau kerta yang lebarnya tidak lebih dari 5 sentimeter.

Setiap bagian daerah lapangan masih dibagi menjadi daerah serang, dan daerah bertahan. Daerah serang merupakan daerah yang dibatasi oleh garis tengah lapangan dan garis serang ini memiliki luas 9 x 2 meter.

Selain itu, terdapat juga daerah servis yang merupakan daerah selebar 9 meter dibelakang setiap garis akhir. Daerah service dibatasi oleh dua garis pendek dengan masing-masing panjang 15 centimeter yang dibuat 20 centimeter di belakang garis akhir, dan sebagai kepanjangan dari garis samping. Kedua garis pendek yang sama-sama panjang tersbeut sudah termasuk ke dalam batas area service, dan perpanjangan daerah service sampai kebelakang hingga batas akhir daerah bebas.

Ukuran NET Bola Voli

Berikut ukuran NET atau jaring pembatas pada bola voli baik untuk putra atau putri sesuai standart internasional:
  • Tinggi NET bola voli putra adalah 2,43 meter
  • Tinggi NET bola voli putri adalah 2,24 meter
  • Panjang NET bola voli adalah 9 meter
  • Lebar NET bola voli adalah 1 meter
  • Tinggi antena pada pada NET bola boli adalah 80 centimeter (berada di atas net)
  • Tinggi tiang NET bola voli adalah 2,55 meter.
  • Jarak antara tiang net dengan garis tepi samping lapangan adalah 0,5 - 1 meter.
  • Pita tepian atas NET bola voli adalah 5 meter
  • Ukuran  tepian samping net bola voli adalah 5 cm (dengan panjang 1 meter)
  • Ukuran mata jala atau petak-petak jaring bola voi adalah 10 cm (berbentuk persegi)

Net atau jaring pembatas pada lapangan bola voli memiliki ukuran yang tidak lebih dari 9,50 meter dan lebar NET juga tidka lebih dari 1,00 meter dengan petak-petak (mata jaring) yang berukuran 10 x 10 centimeter. Tinggi NET bola voli bagi pemain putra atau putri memiliki ukuran yang berbeda. Tinggi NET yang digunakan untuk pemain putra adalah 2,43 meter, sedangkan untuk pemain putri yaitu 2,24 meter, dan untuk tepian atas terdapat pita putih dengan lebar 4 centimeter.

Di dalam pertandingan bola voli yang sifatnya resmi, baik itu nasional atau internasional menggukan tiang setinggi 2,55 meter dan atas batas samping jaring tersebut dipasang antena atau rod  yang menonjol ke atas setinggi 80 centimeter dari tepi jaring atau bibir net. Tongkat itu biasanya terbuat dari bahan fiberglass dengan ukuran panjang 180 centimeter yang diberi warna kontras.

Ukuran Bola Voli

Bola yang digunakan dalam permainan bola voli yang resmi bersifat nasional atau internasional harus berbentuk bulat dan terbuat dari kulit yang lentur atau juga bisa dari kulit sintetis yang dibagian dalamnya terbuat dari karet atau bahan sejenisnya. Sedangkan warna yang digunakan dalam bola voli harus warna kombinasi atau gabungan dari dua warna atau lebih.

Kombinasi warna yang biasanya ada di bahan kulit sintetis pada peryandingan resmi internasional harus sesuai dengan standar FIVB (Federasi Bola Voli Internasional). Untuk spesifikasi bola voli juga harus standart FIVB dengan keliling bola sekitar 64 - 67 cm, berat 260 - 280 gram. Tekanan angin pada bola voli harus 0,39 - 0,325 kg/cm2.

Nah, itulah informasi mengenai ukuran lapangan bola voli beserta gambarnya, dan juga ukuran NET serta bola yang digunakan. Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai penjaskes dan semoga bermanfaat.

Read More