Peranan Organisasi Islam Dalam Kemerdekaan Indonesia

Peranan Organisasi dan Pondok Pesantren pada Masa Perang Kemerdekaan - Organisasi-organisasi dan pondok pesantren tersebut adalah sebagai berikut.

a. Sarekat Dagang Islam/Sarekat Islam

Sarekat Dagang Islam didirikan oleh Haji Samamhudi dan Mas Tirta Adisuryo pada tahun 1950 di kota Solo. Tujuan organisasi ini pada awalnya adalah menggalang kekuatan para pedagang Islam melawan monopoli pedagang Cina (yang mendapat perlakukan istimewa dari penjajah Belanda) dan memajukan agama Islam.

Pada tahun 1912 Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang bertujuan bukan hanya memajukan para pedagang Islam, melainkan lebih luas lagi yaitu menghapus penderitaan, penghinaan, dan ketidakadilan yang menimpa seluruh rakyat Indonesia akibat ulah penjajah Belanda.

Pada tahun 1914 telah berdiri 56 perkumpulan lokal Sarekat Islam yang telah resmi berbentuk badan hukum yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Untuk menyeragamkan gerak dan langkah, pada tanggal 18 Maret 1916 dibentuk wadah Central Sarekat Islam yang diketuai oleh Haji Omar Said Cokroaminoto.


Pada bulan Juni 1916, Sarekat Islam mengadakan kongresnya yang pertama yang dinamai Kongres Nasional Sarekat Islam. Di dalam kongres itu dijelaskan bahwa istilah "nasional" digunakan untuk mempertegas bahwa Sarekat Islam mencita-citakan adanya suatu "nation" bagi rakyat Indonesia (penduduk pribumi).

Pada tahun 1923, Central Sarekat Islam mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Gagasan gerakan Islam internasional ini dikemukakan oleh Kiai Haji Agus Salim dengan nama panislamisme.

b. Muhammadiyah

Organisasi Islam Muhammadiyah didirikan di kota Yogyakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912. Peranan Muhammadiyah pada masa penjajahan Belanda lebih dititikberatkan pada usaha-usaha mencerdaskan rakyat Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan mereka, yakni dengan mendirikan sekolah-sekolah baik di sekolah umum maupun sekolah agama, rumah sakit, panti asuhan, rumah-rumah penampungan bagi warga miskin, dan perpustakaan-perpustakaan.


Pada tahun 1925, tidak lama setelah pendirinya K.H. Ahmad Dahlan wafat, Muhammadiyah sudah tersebar di semua kota besar di seluruh Indonesia serta berhasil membangun dan mengelola 1.774 sekolah, 31 perpustakaan, 834 masjid, puluhan rumah sakit, panti asuhan, dan rumah-rumah penampungan bagi warga miskin.

c. Nahdatul Ulama (NU)

NU didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Dua tokoh penting dalam upaya pembentukan NU adalah K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahab Hasbullah.


Pada masa penjajahan Belanda, NU senantiasa berjuang menentang penjajah dan pernah mengeluarkan pernyataan politik yang isinya sebagai berikut.

  1. Menolaj kerja rodi yang dibebankan oleh penjajah kepada rakyat.
  2. Menolak rencana ordonansi (peraturan pemerintah) tentang pernikahan tercatat.
  3. Menolak diadakannya milisi (wajib militer)
  4. Menyokong GAPI dalam menuntut Indonesia yang memiliki parlemen kepada pemerintah kolonial Belanda.

Itulah sedikit penjelasan mengenai Peranan Organisasi dan Pondok Pesantren pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia, demikian artikel yang dapat saya bagikan dan smeoga bermanfaat.

Advertisement

Baca Juga :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peranan Organisasi Islam Dalam Kemerdekaan Indonesia"

Post a Comment