Konsep Kekuasaan di Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia

Konsep Kekuasaan di Kerajaan-Kerajaan Islam - Dalam pemrintahan, sebelum Islam masuk ke Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Buddha, Setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha mengalami keruntuhan dan digantikan perannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, dan Malaka.

Untuk mengukuhkan kedudukan raja di depan rakyatnya, raja-raja kerajaan Islam di Indonesia memakai gelar-gelar kebangsawanan. Pada umumnya gelar atau sebutan raja-raja Islam meneruskan nama-nama yang lazim dipakai para raja-raja Hindu-Budddha. Misalnya, di Jawa, sebutan raja pada umumnya memakai berbagai nama dan gelar, seperti susuhunan penembahan, maulana dan raja. Di Sumatra terdapat beberapa gelar raja Islam, seperti syah, sultan di Kerajaan Samudra Pasai, Aceh, dan sunan di Kerajaan Palembang.

Beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan diterapkan sebutan raja sebelum kedatangan Islam. Misalnya, Sombaya (Gowa), Mapayunge (Luwu), Mangkau (Bone), dan beberapa sebutan lainnya seperti datu, batara, tomanurung, karaengarung, dan matowa. Setelah kedatangan Islam, raja di Indonesia memakai gelar sultan. Di daerah Kalimantan yang berada di bawah pengaruh Demak, seperti Tanjungpura, rajanya bergelar Pate. Di kerajaan Kutai, rajanya bergelar sunan dan di Kerajaan Banjarmasing bergelar sultan. Di daerah Sumbawa, raja-raja Islam memakai gelar sultan.


Ketika proses Islamisasi berkembang dengan pesat di Indonesia, raja-raja kerajaan Islam juga mengangkat dirinya sebagai pemimpin pemerintahan dan agama (khalifah). Perubahan fungsi raja tersebut memengaruhi negara-negara Islam di Timur Tengah yang tidak memisahkan antara kekuasaan raja di bidang politik dan agama. Misalnya, gelar-gelar keagamaan di Kerajaan Mataram di Yogyakarta.

Gelar raja-raja di Kerajaan Mataram ditambah dengan sebutan Panatagama (penata kehidupan beragama). Misalnya raja Mataram pertama memakai gelar Panembahan Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sajidin Panatagama. Sultan Agung sebagai raja Mataram Islam yang terbesar juga memiliki gelar Sultan Agung Senopati Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sajidin Panatagama. Untuk memperkuat legitimasi kekuasaan, raja-raja kerajaan Islam juga menyusun silsilah keturunannya sampai ke zaman para nabi dan orang-orang suci.

Misalnya, para raja Mataram yang membuat silsilah mulai dari Nabi Adam, nabi-nabi, hingga berlanjut ke zaman pewayangan dalam kisah Mahabharata maupun Ramayana yang bersifat mistis sampai ke zaman Majapahit, Demak, dan Mataram. Untuk lebih memperuat legistimasinya, para penguasa Islam di Jawa dalam tulisan-tulisan yang ditulis pujangga istana, menyatakan bahwa raja sangat sakti karena dapat berhubungan dengan penguasa Laut Selatan, Nyai Rara Kidul.

Selain itu, raja-raja kerajaan Islam di Demak, Banten, Cirebon, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan menghubungkan genealoginya dengan para wali untuk memperoleh legitimasi spiritual. Sementara itu, raha-raja Siak, Palembang, Aceh, dan Pontianak, menghubungkan garis keturunannya dengan negeri Arab. Selain itu, raja-raja Banjar maupun Kutai sering menarik garis silsilahnya berhubungan dengan Kerajaan Majapahit.

Advertisement

Baca Juga :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Konsep Kekuasaan di Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia"

Post a Comment