Sejarah Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Sulawesi

Kerajaan Islam di Sulawesi,- Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Sulawesi Selatan, antara lain Luwu, Gowa-Tallo, Bone, Soppeng, dan Wajo. Akan tetapi, dalam hal ini yang akan dibicarakan adalah kerajaan Gowa-Tallo dan kerajaan Bone.

Kerajaan Gowa-Tallo terutama mempunyai peran sejarah daerah nasional, juga internasional mengingat ibu negerinya Sombaopo sebagai negara-kota yang berperan dalam perdagangan regional dan internasional mempunyai peranan penting dalam segi politik menentang kolonialisme Belanda pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1631-1670).

Di Sulawesi Selatan pada awalnya berdiri beberapa kerajaan seperti Gowa, Talo, Bone, dan Soppeng. Kemudian kerajaan Soppeng, Wajo, dan Bone bergabung menjadi satu dengan nama Tellum Pocco. Sedangkan Kerajaan Gowa dan Tallo bergabung menjadi satu dengan nama kerajaan Makassar.

Makassar terletak di pantai barat semenanjung Sulawesi Selatan yang memiliki posisi penting karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Hal itu menjadikan kerajaan Makassar sebagai pusat persinggahan para pedagang dan kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan Besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.

Sekitar tahun 1605 Kerajaan Gowa-Tallo resmi sebagai kerajaan bercorak Islam, maka Gowa meluaskan pengaruh politiknya agar kerajaan-kerajaan lainnya juga memeluk Islam dan tunduk kepada Kerajaan Gowa-Tallo. Sebelum abad ke-16, raja-raja Makassar belum memeluk agama Islam. Baru setelah datangnya Dato Ri Bandang, seorang penyiar Islam dari Sumatra, Sulawesi berkembang menjadi kerajaan Islam.

Sultan Alaudin adalah raja kerajaan Makassar yang pertama memeluk agama Islam. Ia memimpin Makassar dari 1591-1638. Sebelumnya, Sultan Alauddin bernama asli Karaeng Ma'towaya Tumamenanga RI Agmanna. Setelelah Sultan Alauddin wafat, Kerajaan Makassar dipimpin oleh Muhammad Said selama memimpin perkembangan Makassar maju pesat sebagai bandar transit, bahkan Sultan Muhammad Said juga pernah mengirimkan pasukan ke Maluku untuk membantu rakyat Maluku berperang melawan Belanda.

Pada tahun 1653 Muhammad Said wafat, beliau kemudian digantikan oleh Sultan Hasanuddin. Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar berhasil menguasai kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi. Dalam sejarah, Kerajaan Gowa perlu dicatat tentang sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatannya terhadap upaya penjajahan politik dan ekonomi kompeni (VOC) Belanda. Semula VOC tidak menaruh perhatian terhadap Kerajaan Gowa-Tallo yang telah mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan.

Setelah kapal Portugis yang dirampas oleh VOC pada masa Gubernur Jendral J.P. Coen di dekat perairan Malaka ternyata di kapal tersebut ada orang Makassar. Dari orang Makassar itulah ia mendapat berita tentang pentingnya pelabuhan Sombaopu sebagai pelabuhan transit terutama untuk mendatangkan rempah-rempah dari Maluku. Pada 1634 VOC memblokir Kerajaan Gowa tetapi tidak berhasil.

Peristiwa perperangan dari waktu ke waktu berjalan terus dan baru berhenti antara 1637-1638. Tetapi perjanjian damai iti tidak kekal karena pada 1638 terjadi perampokan kapal orang Bugis yang bermuatan kayu cendana, dan muatannya tersebut telah dijual kepada orang Portugis. Perang di Sulawesi Selatan ini tidak berhenti setelah terjadi perjanjian Bongaya pada 1667 yang sangat merugikan pihak Gowa-Tallo.

Advertisement

Baca Juga :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Sulawesi"

Post a Comment