Kerajaan Mataram (Kerajaan Islam di Pulau Jawa)

Kerajaan Mataram,- Keberadaan Kerajaan Mataram lepas kaitannya dengan Pajang yang didirikan oleh Hadiwijaya. Ketika pemerintahan dipegang oleh Pangeran Benowo, banyak terjadi kekacauan sehingga kekuasaan diberikan kepada Sutawijaya. Oleh Sutawijaya inilah cikap bakal berdirinya kerajaan Mataram. Ibu kota terletak di kota Gede. Gelar Sutawijaya adalah Penembahan Senopati. Raja Mataram yang memerintah setelah Penembahan Senopati adalah Mas Jolang (1601-1613) yang dikenal Penambahan Seda Krapyak, Sultan Agung (1613-1645), Amangkurat (1645-1677), Amangkurat II (1727-1749), Paku Buwono III (1749-1788).

Masa Kejayaan Mataram terwujud ketika diperintah Sultan Agung. Dalam bidang politik pemerintah, Sultan Agung berhasil memperluas wilayah Mataram ke berbagai daerah yaitu, Surabaya, Lasem, Pasuruan, dan Tuban. Disamping berusaha menguasai dan mempersatukan berbagai daerah di Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari kepulauan Indonesia. Kemudian diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, Mataram mengalami kejayaan dalam berbagai bidang di antaranya dalam bidang perekonomian.

Mataram adalah sebuah negara agraris yang mengutamakan mata pencahariannya dalam bidang pertanian. Kehidupan masyarakatnya berkembang dengan pesat yang didukung oleh hasil bumi yang berupa beras (padi). Di bidang kebudayaan Sultan Agung berhasil membuat kelender Jawa, yang merupakan perpaduan tahun Saka dengan tahun Hijriyah. Dalam bidang seni sastra, Sultan Agung mengarang kitab sastra gending ang berupa kitab filsafat. Sultan Agung juga menciptakan tradisi Syahadatain (dua kalimah syahadat) atau Sekaten, yang sampai sekarang masih dan tetap diadakan di Yogyakarta dan Cirebon setiap tahun.

Letak Kerajaan Mataram

Tumbuhnya kerajaan Mataram yang bersifat agraris bersamaan dengan tumbuhnya susunan masyarakat feodal. Susunan masyarakat feodal Mataram dengan penggarap. Ketika kekuasaan Mataram dibagi-bagi oleh pemerintah kolonial Belanda, sistem feodalisme Mataram tetap dipertahankan. Puncak hierarki masyarakat feodal berada di yangan raja. Untuk melambangkan status kebesaran raja dapat dilihat dari bangunan keratonnya. Sultan Agung membangun Keraton Mataram di Karta dan Sitinggil (Yogyakarta) pada tahun 1614 dan 1625 yang dilengkap dengan alun-alun, tembok keliling, pepohonan, masjid besar, dan kolam.

Mataram mengembangkan birokrasi dan struktur pemerintahan yang teratur. Seluruh wilayah kekuasaan Mataram diatur dan dibagi menjadi beberapa bagian, yakni sebagai berikut.
1. Kutagara
Kutagara atau Kutanegara, yaitu daerah keraton dan sekitarnya.
2. Negara Agung
Negara Agung atau Negari Agung, yaitu daerah-daerah yang ada di sekitar kutagara. Misalnya daerah Kedu, Megelang, Pajang, dan Sukawati.
3. Mancanegara
Mancanegara yaitu daerah diluar negara agung. Daerah ini meliputi mancanegara wetan (timur), misalnya daerah ponorogo dan sekitarnya, serta mancanegara won (barat), misalnya daerah Banyumas dan sekitarnya.
4. Pesisiran
Pesisiran yaitu daerah yang ada di pesisir. Daerah ini juga terdapat pesisir kulon (barat), yakni Demak terus ke barat, dan pesisir wetan (timur), yakni Jepara terus ke timur.

Dalam memerintah Mataram, ada beberapa hambatan yang dihadapi Sultan Agung ketika memerintah antara lain:
  1. Bupati yang tidam mau tunduk terhadap mataram.
  2. Kerajaan Cirebon dan Banten.
  3. Belanda yanga ada di Batavia.
Berbagai tindakan Sultan Agung untuk mewujudkan cita-citanya untuk mempersatukan Jawa ke dalam pengaruh kekuasaannya adalah dengan cara sebagai berikut.
  1. Memperluas wilayah kekuasaan.
  2. Menerapkan sistem sentralisasi dalam pemerintahan.
  3. Mempertahankan corak negara yang agraris dan mataram.
  4. Melaksanakan mobilisme militer.
  5. Menghapus corak feodal dalam pemerintahan.
  6. Munculnya budaya Kejawen.
  7. Menggunakan tarikh Islam.
  8. Menerbitkan karya sastra yaitu Sastra Gending, Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata.
  9. Menyusun kitab hukum yaitu Surya Aam.

Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat dan dimakamkan di situs pemakaman di puncak bukit tertinggi di Imogiri, yang ia buat sebelumnya. Kerajaan Mataram kemudian dipimpin oleh putranya, Amangkurat I (1647-1677). Tanda-tanda kemerosotan Kerajaan Mataram pada masa Amangkurat I disebabkan adanya kerja sama dengan Belanda sehingga terjadi pemberontakan Trunojoyo (Madura). Selanjutnya penandatanganan perjanjian Gianti (1755 M) terjadi yang berakibat Mataram dibagi menjadi 2, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Agar Belanda makin mudah mengawasi aktivitas raja dan masyarakatnya, Belanda mendekati Mas Said sehingga terjadi perjanjian Salatiga (1757 M) yang membagi Mataram menjadi empat yaitu,
  1. Kasultanan Yogyakarta.
  2. Paku Alaman.
  3. Kasunanan Surakarta.
  4. Mangkunegara.
Dalam Kerajaan Mataram dikenal beberapa lapisan masyarakat yang umumnya terdiri 4 lapisan, yaitu: golongan raja dan keluarga raja, golongan elite, golongan non elite, dan golongan rakyat jelata.
Nah itulah sedikit penjelasan mengenai kerajaan Islam di Pulau Jawa yakni Kerajaan Mataram, demikian artikel sejarah yang dapat saya bagikan dan semoga bermanfaat.


Advertisement

Baca Juga :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kerajaan Mataram (Kerajaan Islam di Pulau Jawa)"

Post a Comment