Perang Melawan Tirani Jepang (Aceh, Singaparna, Blitar)

Perang Melawan Tirani Jepang,- Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati, kemudian berubah menjadi sebuah kebencian. Rakyat bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang daripada pemerintah kolonial Belanda. Jepang seringkali bertindak sewenang-wenang. Rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa. Kekejaman itu dilakukan oleh Kompetai (polisi militer Jepang). Pada masa pendudukan Jepang banyak gadis dan perempuan Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan dalih untuk bekerja sebagai perawat atau disekolahkan, ternyata hanya dipaksa untuk melayani para Kempetai. Para gadis dan perempuan itu disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur. Kamp-kamp itu dapat ditemukan di Solo, Semarang, Jakarta, dan Sumatra Barat. Kondisi ini menambah deretan penderitaan rakyat di bawah kendali penjajahan Jepang. Oleh Karena itu wajar kalau kemudian timbul berbagai perlawanan. Berikut tiga perlawanan rakyat Indonesia diberbagai daerah di Indonesia.

a. Perjuangan melawan Jepang di Aceh
Perlawanan rakyat Aceh terjadi di Cot Plieng. Perlawanan ini dipimpin oleh Teuku Abdul Jalil. Ia adalah seorang guru mengaji. Peristiwa Ini berawal dari sikap tentara Jepang yang bertindak sewenang-wenang. Rakyat diperas dan ditindas. Jepang berusaha membujuk Teuku Abdul Jalil untuk berdamai. Namun, Teuku Abdul Jalil menolaknya. Akhirnya, pada 10 November 1942 Jepang menyerang Cot Plieng.

b. Perlawanan melawan Jepang di Singaparna
Perlawanan ini bermula dari Paksaan Jepang melakukan Seikeirei. Yakni penghormatan kepada kaisar Jepang. Penghormatan ini dilakukan dengan cara menghadap ke arah timur laut (Tokyo) dan membungkukkan badan, Cara ini dianggap oleh K.H Zaenal Mustofa sebagai tindakan musyrik (menyekutukan tuhan). Tindakan ini melanggar ajaran agama Islam. Akibat penentangan itu, Jepang mengirim pasukan untuk menggempur Sukamanah. Akhirnya meletuslah pertempuran pada 25 Februari 1944 setelah shalat Jumat. K.H. Zaenal Mustofa berhasil ditangkap. Ia ditahan di tasikmalaya, kemudian dibawa ke Jakarta untuk diadili. Ia dihukum mati dan dimakamkan di Ancol. Pada 10 November 1974 makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

c. Perlawanan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar
Pada mulanya, pasukan Peta bertugas mengawasi Romusa yang membuat pertahanan di daerah Pantai Blitar Selatan. Mereka melihat sendiri betapa berat pekerjaan romusa dan sengsara hidupnya. Ditambah lagi keadaan masyarakat yang sangat menderita. Pada 14 Februari 1945, berkobarlah perlawanan Peta di Blitar. Perlawanan ini dipimpin oleh Syodanco, Muradi, Suparyono, dan Bundanco (komandan regu) Sunanto, Sudarmo, Halir Mangkudidjaya. Adapula dr. Ismail sebagai sesepuhnya. Setelah membunuh orang-orang Jepang di Blitar, mereka meninggalkan Blitar. Sebagian menuju lereng Gunung Kelud. Sebagian lagi ke Blitar Selatan. Sayang, perlawanan mereka mengalami kegagalan.

Baca: Sejarah singkat takluknya Jepang oleh Sekutu

Nah itulah 3 perjuangan rakyat indonesia di berbagai daerah selama penjajahan tirani jepang, demikian artikel yang dapat saya bagikan dan semoga bermanfaat.

Advertisement

Baca Juga :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perang Melawan Tirani Jepang (Aceh, Singaparna, Blitar)"

Post a Comment