5 Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah di Indonesia

Bangsa indonesia telah memproklamasikan kemerdekaanya. Sebagai negara yang masih muda, indonesia tidak luput dari pemberontakan-pemberontakan di dalam negeri. Perbedaan kepentingan, idiologi, dan pendapat menjadi menjadi pemicu lahirnya berbagai gerakan yang dapat mengancam keutuhan bangsa. Pemberontakan-pemberontakan tersebut banyak sekali macamnya, mulai dari pemberontakan PKI Madiun, pemberontakan DI/TII diseluruh indonesia, pemberontakan andi anzis dan masih banyak lagi. Untuk itu kita mulai dari penjelasan mengenai pemberontakan DI/TII di seluruh penjuru indonesia.

1. Pemberontakan DI/TII Jawa Barat
Gerakan DI/TII Jawa Barat dipimpin oleh S.M Kartosuwiryo. Pada tanggal Agustus 1949 secara resmi kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Pada tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata pertama kali antara TNI dan DI/TII. Bahkan terjadi perang segitiga antara TNI, Tentara Belanda dan DI/TII. Upaya damai pernah dilakukan oleh Moh. Natsir (pemimpin Masyumi), tetapi gagal mengajak Kartosuwiryo untuk kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

Guna menumpas garakan DI/TII dilakukan Operasi Militer. Operasi dilakukan tanggal 27 Agustus 1949. Operasi tersebut menggunakan taktik "Pagar Betis" dengan menggunakan tenaga rakyat yang besar. Baru setelah tanggal 4 juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditangkap.

2. Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah
Munculnya DI/TII Jawa Tengah berawal dari Majelis Islam yang dipimpin oleh Amir Fatah. Setelah mendapat pengikut yang cukup banyak Amir Fatah memproklamasikan berdirinya Darul Islam (DI) pada tanggal 23 Agustus 1949, di desa Pengarasan, Tagal. Ia menyatakan bahwa gerakannya bergabung dengan DI/TII Jawa Barat pimpinan Kartosuwiryo. Untuk menumpas pemberontakan tersebut pemerintah membentuk pasukan baru yang disebut Benteng Raiders. Dengan pasukan baru segera dilakukan operasi kilat yang disebut Gerakan Benteng Negara (GBN). Akhirnya dilakukan Operasi Guntur pada tahun 1954 gerombolan dapat dihancurkan, dan sisanya tercerai berai.

3. Pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan
Pemberontakan ini dipimpin oleh Kahar Muzakar. Bagi pemerintah Republik Indonesia, gerakan yang dimulai pada tahun 1951 dan baru diselesaikan tahun 1965, banyak waktu tenaga, dan biaya. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi medan yang sulit namun dapat dikuasai dengan baik oleh pemberontak.

Kahar Muzakar memimpin laskar-laskar Gerilya di Sulawesi selatan yang kemudian tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Pemerintah bermaksud membubarkan kesatuan ini dan anggotanya akan dikembalikan ke masyarakat, tapi Kahar Muzakar menolak keputusan tersebut. Ia menuntut pasukannya dimasukkan ke dalam suatu Brigade yang disebut Brigade Hasanuddin dibawah kepemimpinanya. Tuntutan tersebut ditolak oleh pemerintah.

Setelah dilakukan serangkaian pendekatan, Kaar Muzakar menyetakan bersedia dilantik sebagai pejabat wakil Panglima TT VII dengan pangkat letnan kolonel. Namun, saat pelantikan akan dilakukan Kahar Muzakar melarikan diri dan membuat kekacauan. Pada tanggal 17 Agustus 1953, ia mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo.

Untuk menumpas pemberotakan ini, pemerintah melancarkan serangkaian Operasi Militer dan diadakan pencarian yang intensif. Pada tanggal 3 Februari 1965 Kahar Muzakar berhasil ditembak mati. Maka gerakan Pemberontakan ini pun berakhir.

4. Pemberontakan DI/TII di Aceh
Pemimpin gerakan ini adalah Tangku Daud Beureuh, Pada tanggal 2o september 1953 ia memproklamasikan bahwa Aceh adalah bagian dari Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo. Selanjutnya mereka melakukan gerakan serentak untuk menguasai  kota-kota yang ada di Aceh. Mereka juga melakukan propaganda untuk memperburuk citra pemerintahan Republik Indonesia.

Untuk memberantas pemberontakan tersebut pemerintah Republik Indonesia terpaksa menggunakan kekuatan senjata dan Operasi Militer. Selain itu TNI memberikan penerangan kepada masyarakat untuk menghindari salah paham dan mengembalikan kepercayaan kepada pemerintah. Akhirnya pada tanggal 17-28 Desember dilakukan musyawarah kerukunan rakyat Aceh. Musyawarah tersebut mendapat dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat dan bisa memulihkan kembali keadaan Aceh.

5. Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan
Pada bulan Oktober 1950 terjadi pemberontakan kesatuan Rakyat yang tertindas (KryT) yang dipimpin oleh Ibnu Hajar. Ia adalah mantan letnan dua TNI. Ia bersama KryT menyatakan diri sebagai bagian dari DI/TII Jawa barat. Target serangan mereka adalah pos-pos TNI di wilayah tersebut.

Saat ittu pemerintah memberi kesempatan untuk menghentikan pemberontakan secara baik-baik. Ibnu Hajar akhirnya menyerahkan diri. Namun ternyata ia berpura-pura. Setelah mendapatkan peralatan TNI ia melarikan diri. Akhirnya pemerintah melakukan Gerakan Operasi Militer (GOM). Pada tahun 1959 Ibnu Hajar berhasil di tangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tanggal 22 maret 1965.

Itulah sedikit penjelasan mengenai pemberontakan DI/TII di seluruh wilayah indonesia, Sekian artikel mengenai DI/TII yang dapat freedomsiana bagikan dan terima kasih.

Advertisement

Baca Juga :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "5 Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah di Indonesia"

Post a Comment