Adab Murid Kepada Guru Menurut Agama Islam

Adab Murid Kepada Guru Menurut Agama Islam

Adab kepada Guru - Orang tuan tidak mempunyai banyak waktu mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan memberikan pendidikan yang baik dan bermanfaat kepada anak-anak didiknya. Karena seorang ibu sangat sibuk mengatur rumah tangga, sedangkan seorang ayah sibuk mencari nafkah. Di sisi lain dalam lapangan pendidikan dan pengajaran diperlukan kahlian yang barang kali tidak dimiliki orang tua.

Oleh sebab itu, anak-anak dimasukkan ke sekolah agar memperoleh pelajaran dan pendidikan dari guru. Dengan perantara mereka, anak-anak dengan mudah memperoleh berbagai macam ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Setelah hormat dan menghargai kedua orang tua, setiap muslim wajib hormat dan menghargai gurunya. Karena gurulah yang telah berjasa memberikan pelajaran dan pendidikan kepada muridnya agar menjadi manusia yang berbudi luhur, cakap, serta menjadi warga negara yang berguna bagi tanah air, agama, dan bangsa. Begitu pula agar menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan negara.


Oleh karena itu, sudah seharusnya seorang anak menghargai dan menghormati gurunya. Sebagaimana diperintahkan dalam sabda Nabi Muhammad saw. yang berbunyi.

(وعن انس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وقروا من تتعلمون منه (رواه ابو حسن المردى

Artinya: "Dari Anas RA ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Muliakanlah orang-orang yang telah memberikan pelajaran kepadamu." (H.R. Abu Hasan Al-Mawardi)

Berdasarkan hadis di atas, maka amat tercela bagi orang yang tak dapat menghargai gurunya. Apalagi bersikap tidak sopan dan meremehkan. Baik guru itu masih memberikan pelajaran atau tidak. Oleh sebab itu, terhadap mantan guru, kita tidak boleh melupakan jasa-jasanya. Hal itu sering terjadi terutama jika seorang anak (murid) telah mencapai kedudukan atau pendidikan yang lebih tinggi daripada gurunya.

Berikut perilaku yang harus dilakukan oleh seorang murid terhadp gurunya.
  1. Mengucapkan salam atau rasa hormat terlebih dahulu kepada guru, jika bertemu dengan mereka.
  2. Menaati, mematuhi, melakukan perintah guru asalkan tidak bertentagan dengan ajaran agama dan undang-undang.
  3. Memperhatikan pelajaran ketika guru sedang memberikan pelajaran dan jangan terlalu banyak bertanya jika tidak diizinkan.
  4. Menunjukkan sikap yang rendah hati, selalu hormat dan sopan terhadap guru, baik dalam tutur kata maupun dalam tingkah laku sehari-hari.
  5. Tidak berjalan di depan guru, tetapi usahakan tetap berajalan di belakang guru, kecuali jika diizinkan atau pada kondisi dan situasi tertentu.
Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai adab terhadap guru, beserta hadis, dan perilaku yang harus dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya. Demikian artikel yang dapat saya bagikan dan semoga bermanfaat.

Read More
Ciri-Ciri Dakwah Rasulullah saw. Periode Madinah

Ciri-Ciri Dakwah Rasulullah saw. Periode Madinah

Ciri dakwah Rasulullah saw. periode Madinah - Nabi Muhammad saw. hijarah ke Madinah dikarena ia merasa keadaan kota Mekkah pada kala itu sudah tidak aman lagi untuk berdakwah. Setelah hijrah ke Madinah, Beliau  disambut dengan ramah oleh penduduk Madinah. Strategi dakwah pertama di Madinah, Beliau membuat sebuah majid yang sekarang lebih dikenal dengan masjid Nabawi dan Beliau juga mempersaudarakan kaum Ansar dan Muhajirin. Kaum Ansar adalah penduduk asli Madinah, sedangkan kaum Muhajirin penduduk kota Mekkah yang hijrah. Berikut ciri-ciri dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah selama di Madinah.

Ciri-ciri dakwah Rasululah saw. Periode Madinah

Berikut beberapa ciri umum dari dakwah Nabi Muhammad saw. selama berada di Madinah yang dapat diidentifikasi.

1. Menjaga kesinambungan tarbiah dan tazkiyah bagi sahabat yang telah memeluk agama Islam.
Di antara program yang dilakukan adalah membacakan ayat-ayat Alquran untuk semua masyarakat, menyucikan jiwa dan mengajarkan kepada mereka Alquran dan sunah, membangun masjid, serta mempersaudarakan orang-orang muhajirin dan ansar.

2. Mendirikan daulat islamiah
Daulat adalah sarana dakwah yang paling besar dan merupakan lembaga terpenting yang secara resmi menyuarakan nilai-nilai dakwah. Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembentukan daulat.
  • Adanya basis masa kaum muslimin yang solid.
  • Adanya negeri yang layak dan memenuhi syarat.
  • Tersedianya perangkat sistem yang jelas.

3. Adanya keseriusan untuk menerapkan hukum syariat untuk seluruh lapisan masyarakat, baik skala personal maupun jamaah. Seperti melaksanakan syair-syair Islam, menerapkan hudud, dan memutuskan perkara di antara orang yang berselisih.

4. Hidup berdampingan dengan musuh Islam yang menyatakan hidup damai dan bermuamalah dengan mereka dengan aturan yang jelas. Toleransi ini di satu sisi bertujuan untuk mempertontonkan secara langsung kepada mereka indahnya model masyarakat Islam dan di sisi lain menciptakan kestabilan hidup bernegara,

5. Menghadapi secara tegas pihak yang memilih perang serta mempersiapkan kekuatan berkesinambungan untuk menghadapi beberapa kemungkinan-kemungkinan tersebut.

6. Merealisasikan universalitas dakwah Islam dengan merambah ke seluruh kawasan dunia.
7. Melalui surat, duta, mengirim rombongan, menerima utusan yang datang, dan seterusnya.

Nah, itulah beberapa Ciri dakwah Rasululah saw. Periode Madinah yang dapat saya bagikan kepada Anda dan semoga bermanfaat.

Read More
Keteladanan Dakwah Rasulullah saw. Periode Madinah

Keteladanan Dakwah Rasulullah saw. Periode Madinah

Keteladanan Dakwah Nabi Muhammad saw. Periode Madinah - Sebagai seorang muslim hendaknya kita memahami sejarah Nabi Muhammad saw. baik ketika Beliau berdakwah sampai Beliau hijrah ke Madinah dan diangkat sebagai rasul. Oleh karena itu kita harus mengingat kembali akan sejarah dan perjalanan Nabi untuk selalu kita contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Telah kita ketahui bersama bahwa umat Islam pada saat sekarang lebih banyak mengenal figur-figur yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan contoh kehidupan. Namun, ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan peri kehidupan Rasulullah saw. yang mulia.

Nabi Muhammad saw. merupakan Nabi dan Rasul yang diutus Allah Swt. kepada manusia untuk memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus dengan perjuangan yang gigih. Beliau berhasil mengubah kebiasaan  umat manusia dari keburukan kepada jalan kebenaran untuk menyembah Allah Swt. Bukankah dengan menjadikan Beliau sebagai contoh dan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari menjadikan seorang muslim berakhlak mulia?


Berbeda dengan apa yang dialami pada saat di kota Mekah, saat berada di Madinah Nabi Muhammad saw. beserta para pengikutnya mendapat sambutan yang baik oleh penduduk Madinah. Secara sosial masyarakat Madinah ketika itu terdiri dari  beberapa kelompok. Diantaranya adalah kelompok-kelompok yang tergolong besar dan berpengaruh seperti kelompok Yahudi dan Arab. Kelompok Arab terdiri dari suku Aus dan  Khazraj. Berikut keteladanan yang bisa kita ambil dari dakwah Nabi Muhammad saw. periode Madinah.

Baca: Kisah dakwah Rasulullah saw. Periode Madinah

Keteladanan Dakwah Rasulullah saw. Periode Madinah

Berikut beberapa keteladanan yang dapat kita ambil dan kitaterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Jika suatu saat keselamatan jiwa kita terganggu dan tidak aman atau kita tidak dapat melakukan ibadah dengan khusyuk, maka alangkah baiknya kita pindah ke tempat yang aman dan kondusif untuk beribadah.
  2. Di mana pun kita berkewajiban untuk berdakwah mengajak orang lain untuk beribadah, mendirikan masjid, dan memakmurkannya jika di tempat tersebut belum ada.
  3. Dimana pun kita harus dapat hidup bermasyarakat dengan baik.
  4. Tidak membeda-bedakan ras, suku, atau golongan. Semua di hadapan Allah Swt. adalah sama derajatnya, yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya.
  5. Jadilah pemimpin yang adil yang dapat mengayomi dan melindungi segala lapisan masyarakat.
  6. Utamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
  7. Sling tolong menolong dan saling menghormati sesama manusia.
  8. Sabar dan tabah serta senantiasa meminta pertolongan Allah Swt. dari segala halangan dan rintangan kehidupan.
Nah, itulah 8 keteladanan yang bisa kita ambil dari dakwah Rasulullah saw. pada periode Madinah. Demikian informasi yang dapat saya bagikan mengenai keteladanan Rasulullah di Madinah, dan semoga dapat membantu.





Read More
Perang Badar (Sejarah, Sebab, Tanggal, Kesepakatan)

Perang Badar (Sejarah, Sebab, Tanggal, Kesepakatan)

Perang Badar - Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah/3 Januari 623 M. Perang ini terjadi antarkaum kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal melawan tentara Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw. Laskar Quraisy sebanyak 1.000 orang, sedangkan laskar Islam sebanyak 313 orang. Peristiwa ini dinamai dengan Perang Badar karena tempatnya dekat sebuah perigi kebudayaan seseorang bernama Badar, yaitu antara Mekah dan Madinah.

Sebelum terjadi pertempuran ini, kaum muslim dan penduduk Mekkah terlebih dahulu telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata dalam skala kecil antara akhir 623 M sampai dengan awal 624 M, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran berskala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu (Pasukan Islam dan Qurasisy)

Baca: Sejarah Perang Uhud

Nabi Muhammad saw. saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafir Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika beliau dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Nabi Muhammad saw. yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.


Kesepakatan Sebelum terjadinya Perang

Sebelum peperangan dimulai, disepakati adanya perang satu lawan satu antara lain sebagai berikut.
  1. Hamzah bin Abdul Mutalib (Islam) melawan Utbah bin Rabi'ah (Quraisy), Utbah meninggal dunia.
  2. Ubaidah bin Al-Haris (Islam) melawan Syiban bin Rai'ah (Quraisy), Ubaidah luka-luka.
  3. Ali bin Abi Talib (Islam) melawan Wahid bin Utbah (Quraisy), Wahid meninggal dunia.
Bagi kaum Muslim, awal pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia pada zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga diperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering kali bertikai. Berbagai suku Arab lainnya mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah. D dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Sebab Terjadinya Perang Badar

Berikut adalah sebab-sebab terjadinya Perang Badar
  1. Kafir Quraisy menghalang-halangi kaum muslim untuk melakukan ibadah haji.
  2. Kafir Quraisy mengusir kaum muslim dari Mekah hingga terjadi hijrah ke Madinah yang mengakibatkan kehilangan harga dan benda.
  3. Kaum muslim menghalangi kaum kafir Quraisy sewaktu mau berdagang ke Syam (Syria).
Perperangan ini dimenangkan kaum muslim sehingga umat Islam main tersebar. Korban berasal dari umat Islam yang terbunuh sebanyak 14 orang dan umat Quraisy yang terbunuh 70 orang dan yang tertawan 70 orang. Pasukan yang banyak menewaskan musuh di antaraya Hamzah, Ali, Ammar bin Yasir, dan Suhaib Ar-Rumi.

Read More
Strategi Dakwah Rasulullah saw di Madinah

Strategi Dakwah Rasulullah saw di Madinah

Strategi Dakwah Rasulullah saw. di Madinah - Bila di tinjau dari persoalan ajaran Islam, periode Madinah merupakan kelanjutan dari periode Mekah. Pada periode Mekah, ayat-ayat tentang hukum belum banyak diturunkan. Sementara pada periode Madinah, kita mendapati ayat hukum mulai turun melengkapi ayat yang telah ada sebelumnya. Ini dipahami mengingat hukum bisa dilaksanakan bila komunitas telah terbentuk, bukan hanya ayat-ayat hukum saja yang berangsur-angsur sempurna, juga ayat lain misalnya tentang etika, tauhid, dan seluruh elemen ajaran Islam berangsur-angsur mendekati titik kesempurnaan dan mencapai puncaknya dengan diturunkannya surah Al-Maidah ayat 3.

Baca: Kisah dakwah Nabi Muhammad di Madinah

Berikut beberapa strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah

1. Membangun Masjid

Langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad saw. setibanya di Madinah adalah mmebangun masjid. Dibangunnya masjid saat memulai pembangunan sebuah negera baru oleh Rasulullah saw. merupakan pertanda pentingnya masjid bagi kehidupan sosial masyarakat Islam. Masjid merupakan pusat pendidikan umat Islam dan merupakan simbol hubungan masyarakat Islam dengan tuhannya. Masjid sangat efektif untuk menghilangkan semua status keduniaan dan menjadikan semua lapisan masyarakat hidup tanpa kelas sosial.

Masjid pertama dibangun di kota Quba pada sebuah tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail. Tanah tersebut dibeli oleh Nabi Muhammad saw. sebagai tempat tinggal dan sebagian untuk tempat masjid. Masjid inilah yang dikenal dengan nama Masjid Nabawi.


Masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah salat, namun juga dipergunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan mengajar keagamaan, mengadili berbagai perkara yang muncul di masyarakat, dan pertemuan-pertemuan lainnya.

Di samping itu, masjid tersebut juga berfungsi sebagai pusat politik dan pemerintahan saat itu. Dengan dibangunnya masjid tersebut umat Islam tidak merasa takut lagi untuk melaksanakan salat dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya atau mereka tidak takut lagi dikejar-kejar orang-orang musyrik dan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam. Sejak itulah pelaksanaan salat dirumuskan dengan baik dan sempurna.

Baca: Pengertian Dakwah Beserta Tata Cara Dakwah

Orang yang pertama kali mengumandangkan azan adalah Bilal Ibnu Rabbah. Beliau diberi kepercayaan untuk mengumandangkan azan karena memiliki suara yang baik dan indah. Sejak itulah Masjid Nabawi ramai dikunjungi jemaah yang akan melaksanakan salat bersama Nabi Muhammad saw.

Berdirinya masjid itu tidak saja merupakan tonggak berdirinya masyarakat Islam, namun juga merupakan titik awal perkembangan Islam. Jalan-jalan di sekitar masjid bertambah baik sehingga lama-kelamaan tempat itu menjadi pusat kota, pusat perdagangan, dan pemukiman.

Ramainya pembangunan di kota Madinah menyebabkan masyarakat dari daerah lain berdatangan ke kota itu, baik untuk berdagang atau tujuan-tujuan yang lain. Hal ini yang menyebabkan Madinah menjadi kota terbesar di Jazirah Arab.

2. Menciptakan Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Kaum Ansar

Kaum Muhajirin adalah para sahabat Rasulullah saw. penduduk Mekah yang berhijrah ke Madinah. Adapun kaum Ansar adalah para sahabat penduduk asli Madinah. Rasulullah saw. bermusyawarah dengan Abu bakar dan Umar bin Khattab sehingga memutuskan agar setiap orang muhajirin mencari dan mengangkat seorang dari kalangan Ansar dan begitu juga sebaliknya. Masyarakat merespon ini dengan sukacita dan mencari saudara mereka masing-masing.

Untuk memperkuat barisan umat Islam di Madinah, Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum muslim di Mekah (Muhajirin) dengan kaum muslim di Madinah (Ansar). Untuk itu, Rasulullah saw. memberi contoh dengan mengangkat Ali bin Abi Talib menjadi saudaranya. Berikut adalah mereka yang dipersaudarakan Rasulullah saw.
  • Hamzah bin Abdul Mutalib dengan Zaid bin Haritsah.
  • Abdurrahman bin Auf dengan Sa'ad bin Rabi.
  • Umar bin Khatab dengan Itban bin Malik Al-Khazraj.
  • Ja'far bin Abi Mutalib dengan Mu'az bin Jabal.
Melalui langkah ini, Rasulullah saw, telah menciptakan suatu bentuk persaudaraan baru yaitu persaudaraan berdasarkan agama yang menggantikan persaudaraan antardaerah. Dalam persaudaraan ini, kaum ansar merasakan kepedihan yang dialami saudara mereka di Mekah.

3. Hubungan antara Kaum Muslim dan Nonmuslim

Untuk menjalin hubungan yang baik antara kaum muslim dan nonmuslim (Yahudi), Rasulullah saw. memprakarsai ditulisnya undang-undang yang selanjutnya dikenal dengan "Piagam Madinah" yang ditulis pada tahun 2 Hijriah atau 623 M. Berikut adalah isi Piagam Madinah.
  1. Jika salah satu pihak diperangi musuh dari luar, maka mereka wajib membantu pihak yang diserang.
  2. Kaum muslim dan kaum Yahudi wajib saling menolong dan melaksanakan kewajiban untuk kepentingan bersama.
  3. Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin untuk seluruh penduduk Madinah. Bila terjadi perselisihan di antara kaum muslim dan kaum Yahudi, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada keadilan Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin tertinggi di Madinah.
Piagam Madinah telah disepakati bersama dan dianggap sebagai titik tolak pembentukan negara yang demokratis. Masyarakat Madinah terbagi menjadi beberapa kelompok besar yaitu kelompok muhajirin dan kelompok ansar, Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala. Pada awalnya kelompok di luar Islam menerima kedatangan Nabi dan umatnya dengan baik. Namun setelah Islam berkembang dna berkuasa, mereka menaruh rasa iri dan dendam. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut Rasulullah saw. merancang adanya kesepakatan yang tertuang dalam Piagam Madinah.

Dalam piagam itu termuat berbagai ketentuan yang mengikat semua penduduk, baik muslim maupun nonmuslim. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat hidup damai, tentram, aman, dan sejahtera, serta memiliki sikap toleransi yang tinggi dalam masyarakat yang sangat majemuk tersebut.


Kebijakan Nabi Muhammad saw. inilah yang membuat posisinya semakin tinggi dan dihormati di semua lapisan masyarakat. Apalagi semua persoalan yang tidak dapat diselesaikan lewat musyawarah, diserahkan kepada keadilan dan kebijakan Nabi Muhammad saw. Posisi tersebut tentu saja menbuat diri Beliau menjadi pemimpin tertinggi di Madinah dan berhak membuat peraturan baik untuk kepentingan sosial maupun kepentingan negara.

Read More
Faktor Penyebab Kekalahan Umat Islam Dalam Perang Uhud

Faktor Penyebab Kekalahan Umat Islam Dalam Perang Uhud

Perang Uhud -  Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Syakban tahun ke-3 Hijriah/Januari 625 M. Perang ini terjadi antarumat Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw. dengan kekuatan tentara sebesar 700 orang melawan tentara kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan dengan bala tentara sebanyak 300 orang. Kafir Quraisy terdiri dari orang Quraisy, Arab, Tihamah, Kianah, Bani Haris, Bani Al-Haun, dan Bani Mustaliq. Tempat peperangan berada di kaki Bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kora Madinah.


Sebab terjadinya peperangan adalah orang kafir Quraisy ingin membalas kekuatan dalam Perang Badar. Dalam Perang uhud ini, awalnya umat islam mendapat kemenangan yang gilang-gemilang, tetapi akhirnya umat Islam mendapat kekalahan, bahkan Nabi Muhammad saw. mengalami luka-luka.

Dalam perang ini, awalnya tentara Islam dapat menghalangi tentara kafir Quraisy sehingga mereka banyak yang meninggalkan harta benda. Akan tetapi, sewaktu tentara panah Islam melihat tentara musuh hampir kalah dan banyak meninggalkan harta benda, mereka lupa akan pesan Nabi Muhammad saw. agar mereka jangan meninggalkan tempat ini walaupun dalam keadaan menang atau kalah.

Jadi, pada waktu itu tentara meninggalkan tempat bertahannya  dan terus ikut mengejar musuh sambil mengambil harta rampasan perang. Tentara yang tidak meninggalkan tempat hanya 10 orang. Dengan demikian tentara berkuda kafir Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid dapat menyerang tentara Islam dari belakang setelah menyerang tentara panah yang tinggal 10 orang.

Faktor Penyebab Umat Islam Kalah Dalam Perang Uhud

Jadi dalam Perang Uhud mula-mula Islam mendapat kemenangan, tapi akhirnya mendapat kekalahan. Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan umat Islam kalah dalam Perang Uhud.
  1. Tentara panah sebanyak 40 orang tidak patuh kepada perintah Nabi Muhammad saw.
  2. Di antara umat Islam terdapat kaum munafik sebanyak 300 orang yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay.
  3. Sebelum berangkat terjadi perselisihan pendapat antara kaum muda dan kaum tua mengenai tempat yang akan dipakai untuk peperangan.
Nah, itulah sedikit penjelasa sejarah mengenai Perang Uhud beserta faktor penyebab kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud. Demikian artikel informasi yang dapat saya bagikan mengenai agama Islam, dan semoga bermanfaat.


Read More
Kisah Peristiwa Pembebasan Kota Mekah

Kisah Peristiwa Pembebasan Kota Mekah

Peristiwa Pembebasan Kota Mekah - Pembebasan dan penaklukan kota Mekkah dilakukan Nabi Muhammad saw. dengan tindakan yang amat bijaksana, yaitu memerintahkan para sahabatnya agar tidak merusak dan mengotori Mekkah dengan peperangan. Pada proses awal, Nabi Muhammad saw. memerintahkan para sahabat dan pasukannya untuk berkemah di dekat kota Mekkah. Hal ini sebagai salah satu langkah persiapan dalam penaklukan kota Mekkah. Melihat kenyataan ini, paman Nabi Muhamad saw. yang bernama Abbas bin Abdul Mutalib datang menemui Rasulullah saw. dan menyatakan keislamannya.

Demikian dengan Abu Sufyan juga datang menemui Rasulullah saw. dan menyatakan keislamannya di hadapan beliau dan umat Islam. Setelah itu, Rasulullah saw. memberikan kepercayaan kepada Abu Sufyan untuk menjadi perantara dan masyarakat Quraisy lainnya dalam persoalan keselamatan mereka di kota Mekkah dan kemungkinan terjadi serangan yang akan dilakukan oleh umat Islam.


Mengenai jaminan keselamatan, Rasulullah saw. memberikan keamanan kepada Abu Sufyan dan keluarganya dengan menyatakan bahwa siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat. Orang yang masuk masjid selamat, begitu pula yang menutup pintu rumahnya rapat-rapat akan selamat.

Sesampainya di kota Mekah, Abu Sufyan menyampaikan pesan perdamaian kepada masyarakat Quraisy dan langkah-langkah kebijaksanaan Rasulullah saw. yang telah diterimanya dalam usaha pembebasan kota Mekkah. Setelah mengetahui bahwa Abu Sufyan telah masuk Islam, akhirnya masyarakat Quraisy lainnya mengikuti jejak langkah Abu Sufyan dan menyatakan diri masuk Islam.

Abu Sufyan kemudian menyampaikan pesan perdamaian yang dibawanya dari Rasulullah saw. dan memerintahkan kepada mereka agar mereka tidak melawan Rasulullah saw. dan pasukannya ketika memasuki kota Mekkah.

Setelah kota Mekkah ditaklukkan, Rasulullah saw. mengunjungi Ka'bah serta melakukan tawaf. Setelah itu, beliau baru menghadap orang-orang yang berkumpul di masjid. Nabi memaafkan semua kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya dan para sahabatnya. Kemudian barulah Rasulullah saw. menghancurkan 360 berhala yang mengelilingi Kakbah dari kecil sampai besar. Penghancuran ini disaksikan orang-orang Quraisy. Berhala yang dulunya disanjung dan dipuja sekarang dihancurkan tanpa terjadi bahaya apa pun.

Selesai membersihkan Kakbah dari berhala-berhala pujaan orang kafir Quraisy, Rasulullah saw. memerintahkan Bilal Ibnu Rabbah untuk melakukan Adzan di atas Kakbah. Kemudian umat Islam salat berjamaah dengan Rasulullah saw. Pada hari itu tampaklah kemenangan umat Islam karena sejak saat itu datang berbondong-bondong penduduk Mekah, baik laki-laki, perempuan, tua, maupun muda yang semuanya menyatakan keislannya di hadapan Rasulullah saw.

Read More