6 Isi Perjanjian Hudaibiyah dan Latar Belakangnya

6 Isi Perjanjian Hudaibiyah dan Latar Belakangnya

Perjanjian Hudaibiyah - Nabi Muhammad saw. beserta 1.000 umat muslim pada tahun 6 Hijriah (628 M) pergi ke Mekkah untuk mengerjakan umrah dan berziarah ke Baitulharam, karena sejak umat Islam meninggalkan Mekkah tahun 622 M (selama enam tahun) tidak mempunyai kesempatan menunaikan ibadah haji. Akan tetapi, di tengah perjalanan mereka dihalangi oleh kaum Quraisy karena diduga akan melakukan peperangan. Yang menghalangi mereka saat itu adalah pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Namun, dalam hal ini tidak terjadi peperangan karena kaum muslim datang bukan untuk berperang, melainkan untuk berziarah. Akhirnya setelah diberi penjelasan oleh Usman bin Affan, lunaklah hati mereka terhadap kaum muslim. Pada saat itu umat Islam sampai di sebuah tempat bernama Hudaibiyah yang berjarak sekitar enam mil dari kota Mekkah. Di sana mereka mengadakan perundingan yang disebut Perjanjian Hudaibiyah.


Isi Perjanjian Hudaibiyah

Berikut adalah isi Perjanjian Hudaibiyah.
  1. Tahun ini kaum muslim harus kembali ke Madinah dan tidak boleh meneruskan maksudnya ke kota Mekkah.
  2. Tidak boleh melakukan peperangan antarkedua belah pihak selama sepuluh tahun.
  3. Kaum Quraisy yang datang kepada Nabi Muhammad saw. dan tidak seizin walinya harus dikembalikan dan pengikut Nabi Muhammad saw. yang datang kepada kaum Quraisy tidak dikembalikan.
  4. Kaum Quraisy di Mekkah harus menjauhkan diri dari Mekkah selama kaum muslim berada di kota Mekkah untuk melakukan ibadah haji.
  5. Pada tahun depan, baru diperbolehkan bagi kaum muslim melakukan ibadah haji dan umrah selama tiga hari serta tidak diperbolehkan membawa senjata perang selain pedang di dalam sarungnya.
  6. Barang siapa yang hendak membuat perjanjian dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan, begitu pula kepada kaum Quraisy.
Perjanjian ini dilakukan antara Nabi Muhammad saw. sebagai wakil dari kaum muslim dan Suhail bin Amir sebagai utusan dari kaum Quraisy. Orang yang menulis perjanjian adalah Ali bin Abi Talib dan bertempat di Hudaibiyah, yaitu antara Mekkah dan Madinah sehingga disebut Perjanjian Hudaibiyah.

Read More
Dakwah Rasulullah saw. di Madinah

Dakwah Rasulullah saw. di Madinah

Dakwah rasulullah di madinah - Bila ditinjau dari persoalan ajaran Islam, periode Madinah merupakan kelanjutan dari periode Mekah. Pada periode Mekah, ayat-ayat tentang hukum belum banyak diturunkan. Sementara pada periode Madinah, kita mendapati ayat hukum mulai turun melengkapi ayat yang telah ada sebelumnya. Ini dipahami mengingat hukum bisa dilaksanakan bila komunitas telah terbentuk, bukan hanya ayat-ayat hukum saja yang berangsur-angsur sempurna, juga ayat lain misalnya tentang etika, tauhid, dan seluruh elemen ajaran Islam berangsur-angsur mendekati titik kesempurnaan dan mencapai puncaknya dengan diturunkannya surah Al-Maidah ayat 3.

Sejak itu dimulailah babak baru dalam masa kenabian. Berbeda dengan apa yang dialami pada saat di kota Mekah, di Madinah Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya mendapat sambutan yang baik oleh penduduk Madinah. Secara sosial masyarakat Madinah ketika itu terdiri dari  beberapa kelompok. Kelompok-kelompok yang tergolong besar dan berpengaruh adalah kelompok Yahudi dan Arab. Kelompok Arab terdiri dari suku Aus dan  Khazraj.


Masing-masing kelompok ini dalam rentang waktu yang cukup panjang selalu terlibat dalam pertikaian, mereka saling bertikai untuk memperebutkan kepemimpinan di antara mereka. Karena masing-masing mereka tidak ada yang mau mengalah, maka Madinah pada saat itu menjadi kosong kepemimpinan.

Dakwah Rasulullah saw. di Madinah

Setelah mendapat tekanan-tekanan yang cukup berat dari kaum kafir musyrik Mekah, maka atas petunjuk Allah swt. Rasulullah saw. memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Hijrahnya Rasulullah saw. diikuti oleh sahabat-sahabatnya yang setia dan orang-orang yang mendukung perjuangan dakwah Nabi, yaitu menyebarkan agama Islam.

Kaum muhajirin adalah kaum yang mengikuti Rasulullah saw. ketika hijrah ke Madinah. Nabi Muhammad saw. beserta orang-orang yang mengikuti ajaran ke Yatsrib pada tahun 622 M. Kedatantan Rasulullah saw. di Madinah beserta umat Islam lainnya disambut dengan meriah dan gembira. Hal ini ditandai dengan berbagai syair pujian yang dilantunkan untuk melambangkan kemenangan Rasulullah saw. dalam meneggakkan Islam.

Setelah kedatangan Rasulullah saw., kota Yatsrib namanya menjadi Madinatun Nabi (kota Nabi) atau Madinatun Munawwarah (kota yang penuh cahaya terang). Berikut beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat Madinah mudah menerima agama Islam.
  1. Kesederhanaan pribadi Nabi Muhammad saw.
  2. Sikap sopan santun yang membudaya dalam masyarakat Madinah.
  3. Rela berkorban untuk orang lain.
  4. Islam mengajarkan perdamaian antarbangsa dan melarang persaingan tidak sehat.
  5. Di dalam Islam, kedudukan setiap umat Islam sama di hadapan Allah swt.
  6. Nabi Muhammad saw. adalah seorang yang pemaaf, rendah hati, dan tidak dendam pada siapapun meski disakiti.
Hal yang mendasar dari beberapa faktor di atas adalah bahwa Islam menjanjikan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Selain membawa agama Islam, Rasulullah. benar-bena menjadi teladan bagi umat Islam di seluruh dunia.

Kaum ansar adalah kaum Madinah yang menolong Nabi Mmuhammad saw. beserta kaum muhajirin ketika hijrah ke Madinag. Keadaan sosial masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai suku sangat menguntungkan bagi agama Islam. Keuntungan tersebut adalah bahwa mereka memiliki kesadaran sendiri untuk masuk Islam. Kesadaran seperti itu lebih baik berasal dari pandangan bahwa daripada bersaing dengan suku lain, lebih baik memeluk Islam yang akan membawa kedamaian dan kebahagiaan.


Read More
Perundang-Undangan Mengenai Wakaf di Indonesia

Perundang-Undangan Mengenai Wakaf di Indonesia

Wakaf adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya, kebaikan dan untuk kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang kekal zatnya artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja. Peraturan mengenai wakaf juga sudah diatur dalam perundang-undangan wakaf, yaitu sebagai berikut.

Di Indonesia, perihal perwakafan ini telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah. Tentu dengan tujuan agar pengelolaan wakaf ini dapat berjalan efektif dan berguna. Peraturan perundang-undangan yang selama ini belum dalam bentuk undang-undang, melainkan sebatas peraturan pemerintah dan keputusan menteri yaitu sebagai berikut.
  1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik.
  2. Pertauran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 6 Tahun 1997 tentang Tata Pendaftaran Mengenai Perwakafan Tanah Milik.
  3. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 1 Tahun 1978 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 25/1997 tentang Perwakafan Tanah Milik.
  4. Instruksi Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 1987 tentang Bimbingan dan Pembinaan kepala Badan Hukum Keagamaan sebagai Nazir dan Badan Hukum Keagamaan yang Memiliki Tanah.
  5. Surat Edaran Dirjen Bimbaga Islam dan Urusan Haji Nomor DII/5/Ed./07/1981 tentang Pendaftaran Perwakafan Tanah Milik.

Dalam peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1997 tentang Perwakafan Tanah Milik, bab I pasal I dinyatakan bahwa:
  1. Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagaian dari harta kekayaan yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
  2. Wakif adalah orang atau orang-orang ataupun badan hukum yang mewakafkan tanah miliknya.
  3. Ikrar adalah pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan tanah miliknya.
  4. Nazir adalah kelompok atau orang atau badan hukum yang diserahi tugas pemeliharaan atau pengurusan benda wakaf.

Penerapan Ketentuan Perundang-Undangan tentang Wakaf

Setiap muslimin yang hendak mewakafkan sebagian hartanya atau hendak menerima wakaf dari pihak lain, hendaknya menggunakan peraturan perundang-undangan tentang wakaf yang telah disahkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Dengan demikian, ia telah mampu menerapkan peraturan perundang-undangan tersebut.

Untuk dapat menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang wakaf, diperlukan adanya kesadaran diri dari semua pihak, baik orang yang akan mewakafkan (wakif) maupun orang yang menerima wakaf (nazir).

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan, kedua belah pihak itu mempunyai prasyarat tertentu yang semuanya terikat dalam undang-undang. Misalnya wakif harus mengikrarkan niat wakafnya, baik secara lisan maupun tertulis di hadapan pejabat pembuat akta ikrar wakaf dan beberapa penerima benda wakaf berkewajiban mengurus, mengawasi, dan mengelola benda wakaf, serta melaporkannya secara berkala kepada pejabat pemerintah yang menangani hal itu (lihat pasal 10 Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1998).

Kesalahan untuk menerapkan ketentuan perundang-undangan wakaf hendaknya dimiliki oleh setiap muslim di negeri ini, sehingga perundang-undangan tersebut dapat berjalan secara efektif sesuai dengan maksud dan tujuannya, yaitu memberdayakan potensi umat Islam Indonesia untuk kemajuan dan kesejahteraan kaum muslimin.

Read More
Fungsi Pakaian Dalam Islam Lengkap Dengan Penjelasan

Fungsi Pakaian Dalam Islam Lengkap Dengan Penjelasan

Fungsi pakaian dalam islam - Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok manusia di samping makanan dan tempat tinggal. Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga menjadi lambang status seseorang dalam masyarakat. Sebab berpakaian merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga berusaha selalu menutupi tubuhnya.

Dalam ajaran agama Islam, pakaian bukan semata-mata masalah budaya atau mode, Islam menetapkan batasan-batasan tertentu untuk laki-laki maupun perempuan. Khususnya bagi seorang muslimah, mereka memiliki pakaian khusus yang menunjukkan jati dirinya sebagai seornag muslimah sejati. Bila berpakaian adat umumnya bersifat lokal, maka berpakaian muslimah bersifat universal. Dengan berpakaian yang menutup aurat, seorang muslimah akan lebih terjaga dan terhindar dari perbuatan maksiat.

Berpakaian adalah mengenakan pakaian untuk menutupi aurat dan sekaligus sebagai perhiasan untuk memperindah jasmani seseorang. Berpakaian merupakan salah satu wujud dari tata krama yang sangat dianjurkan oleh Islam. Berikut tiga fungsi macam fungsi pakaian.


1. Sebagai Penutup Aurat

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menutup aurat. Jika saat salat ada anggota tubuh yang kelihatan auratnya maka salatnya tidak sah. Islam telah menetapkan kaitannya dengan aurat baik laki-laki maupun perempuan. Aurat laki-laki adalah antara pusar sampai kedua lutut, sedangkan bagi perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

2. Untuk Perhiasan atau Keindahan

Sebagai perhiasan, hal ini akan mendorong manusia untuk mengembangkan kreasinya sehingga bermunculan mode pakaian. Kita diperkenankan memakai pakian dengan model apa pun sesuai dengan budaya masyarakat setempat asalkan pakaian tersebut memenuhi persyaratan sebagai penutup aurat.

Islam melarang seseorang memakai pakaian tipis atau ketat, meskipun kedua model pakaian tersebut telah memenuhi fungsinya sebagai penutup aurat. Namun, apabila pakaian tersebut dibuat ketat maka dilarang dalam Islam, demikian halnya pakaian yang terlampau tipis. Pakaian yang ketat akan menampilkan bentuk tubuh pemakainya, sedangkan pakaian yang terlalu tipis akan menampakkan kulit pemakainya. Kedua cara berpakaian tersebut dilarang oleh Islam, karena hanya akan menarik perhatian dan menggugah nafsu syahwat lawan jenisnya. Sedangkan untuk kaum lelaki dilarang memakai cincin emas dan pakaian sutra.

3. Sebagai Pelindung

Sebagai pelindung tubuh dari berbagai hal yang dapat menyebabkan tubuh menjadi sakit. Misalnya melindungi tubuh dari udara dingin, sengatan matahari, gigitan serangga, bahkan sebagai pelindung dari senjata tajam atau peluru (baju antipeluru).

Read More
Contoh Perilaku Beriman kepada Malaikat

Contoh Perilaku Beriman kepada Malaikat

Contoh perilaku beriman kepada Malaikat - Menurut bahasa, kata malaikat merupakan kata jamak yang berasal dari bahasa Arab yaitu malak yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar al alukah yang berarti risalah atau misi.

Sedangkan menurut istilah Malaikat itu adalah Makhluk ciptaan Allah SWT yang terbuat dari cahaya (nur) yang tidak memiliki hawa nafsu dan memiliki sifat taat yang sangat luar biasa kepada Allah SWT. Dan Malaikat adalah makhluk Allah yang memiliki beberapa tugas diantaranya seperti penjaga syurga, penjaga neraka, pencatat amal, peniup teropet, dll. Selain itu tugas utama dari malaikat adalah taat kepada Allah Swt. dan mematuhi segala perintahnya.

Baca: Nama Malaikat, Tugas, Sifat, dan Jumlah Malaikat

Karena termasuk makhluk gaib atau tidak bisa dilihat oleh mata manusia, alam manusia dan alam malaikat pastinya  berbeda. Malaikat tidak berjenis kelamin, tidak makan, tidak tidur, dan tidak memiliki hawa nafsu. Karena tidak dikaruniai hawa nafsu, maka malaikat senantiasa patuh dan taat kepada Allah Swt. sehingga mereka tidak pernah membangkang.


Adapun contoh perilaku beriman kepada Malaikat dan penerapan perilaku beriman kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dibawah ini.

Contoh-Contoh Perilaku Beriman kepada Malaikat

Berikut beberapa contoh perilaku beriman kepada malaikat
  1. Selalu yakin terhadap kebesaran Allah Swt.
  2. Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt.
  3. Selalu meningkatkan ibadah kepada Allah Swt.
  4. Terus-menerus menambah pengetahuan.

Penerapan Perilaku yang Beriman kepada Malaikat dalam kehidupan Sehari-hari

Berikut beberapa penerapan perilaku beriman kepada malaikat.
  • Menyakini dalam hati bahwa malaikat-malaikat itu ada dan diciptakan oleh Allah Swt.
  • Menyakini bahwa malaikat berperan aktif dalam kehidupan manusia, sehingga selalu bersikap hati-hati dan waspada dalam bertindak.
  • Menyakini bahwa malaikat tidak pernah dusta dan durhaka kepada Allah Swt. sehingga muncul rasa takut berbuat dosa dan maksiat.
  • Menyakini bahwa beriman kepada malaikat termasuk rukun iman dan mengingkarinya adalah berdosa dan kufur.
  • Menyakini bahwa malaikat memiliki sifat-sifat mulia sehingga berusaha meneladani dalam kehidupan.


Nah, itulah sedikit pengertian mengenai Malaikat, dan contoh perilaku beriman kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari. Demikian artikel informasi yang dapat saya bagikan dan semoga bermanfaat.

Read More
Contoh Perwujudan Sikap Husnuzan Kepada Allah swt.

Contoh Perwujudan Sikap Husnuzan Kepada Allah swt.

Pengertain Husnuzan - Berprasangka ada dua macam yaitu berprasangka baik (husnuzan), dan berprasangka buruk (suuzan). Husnuzan merupakan akhlak karimah atau akhlak mahmudah yang artinya akhlak terpuji. Kewajiban untuk berprasangka yang baik kepada Allah swt. dan rasul-Nya. Allah telah memberikan karunia nikmat yang tiada terkira kepada kita. Dan Allah swt. membuktikan segala takdirnya kepada manusia, pasti ada hikmahnya, dan menyakini bahwa hal itulah yang terbaik untuk kita.

Manusia harus berbaik sangka kepada Allah swt. dalam setiap usaha yang dilakukannya. Allah swt. akan memberikan yang terbaik baginyam terlepas dari hasilnya manusia hanya berusaha sedangkan keputusan ada di tangan Allah swt.

Sikap husnuzan terhadap Allah swt. dapat berbentuk sabar terhadap cobaan yang menimpa kita. Tidak menganggap Allah swt. tidak adil terhadap kita, selalu berikhtiar (selalu berusaha) dan doa serta tawakal (berserah diri) kepada Allah swt. Apapun yang terjadi di akhir, itu merupakan takdir dari Allah swt., kita harus sabar dan selalu berusaha, berdo'a, dan tawakal.


Berprasangka baik merupakan sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang yang beriman. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. berpesan agar umatnya benar-benar memiliki sikap husnuzan dan menjauhi sifat suuzan. berikut berwujudan sikap husnuzan kepada Allah swt.

Perwujudan Sikap Husnuzan Kepada Allah swt.

Menurut terminologinya, husnuzan terdiri dari dua bagian, yaitu husnuzan kepada Allah swt. dan kepada sesama manusia. Di antara perwujudan sikap husnuzan kepada Allah adalah sebagai berikut.

1. Ikhlas
Ikslas menurut bahasa adalah bersih, murni, tidak bercampur dengan yang lain atau lurus. Sedangkan secara istilah adalah ketulusan hati dalam melaksanakan suatu perbuatan yang baik semata-mata hanya karena Allah swt. dan mengharapkan rida-Nya.

2. Tawakal
Tawakal menurut bahasa adalah berserah diri kepada kehendak Allah swt., percaya diri dengan sepenuh hati kepada Allah swt. dalam penderitaan dan sebagainya. Sedangkan tawakal menurut istilah adalah suatu sikap hati, tindakan dan perbuatan seorang hamba dalam berserah diri kepada Allah swt., percaya diri dengan sepenuh hati kepada-Nya dengan hasil baik atau buruk yang didapat setelah ia melakukan ikhtiar.

3. Tasyakur dan Qanaah
Tasyakur berasal dari kata dasar syakara-yaskuru-syukran yang artinya terima kasih atau ucapan terima kasih kepada Allah swt. Sedangkan syukur menurut istilah adalah suatu ucapan terima kasih kepada Allah swt. karena telah terlepas dari marabahaya, mendapat kesenangan dan lain sebagainya yang disertai dengan tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan qanaah mengandung arti bahwasanya seorang rela menerima apa adanya dan menjauhkan diri dari sikap tidak puas yang berlebihan.Walaupun demikian, bukan berarti ia harus bermalas-malasan.

4. Tadarru' dan Khusyuk
Tadarru' menurut bahasa adalah kesederhaan atau kerendahan hati. Sedangkan menurut ustilah adalah suatu sikap sederhana dan kerendahan hati yang direalisasikan dengan perbuatan kepada Allah swt. dan kepada sesama manusia. Khusyuk menurut bahasa ialah sungguh-sungguh, penuh penyerahan dan kebulatan hati. Sedangkan menurut istilah adalah suatu sikap yang sungguh-sungguh penuh penyerahan dan kebulatan hati dalam melakukan suatu ibadah hanya kepada Allah swt. semata.

5. Ar-Raja'
Ar-Raja' merupakan sikap optimis. Allah swt. memerintahkan kepada hambanya untuk mempunyai sikap optimis.

6. Memiliki Sifat Malu
Salman Al-Farisi mengatakan. "Seandainya aku mati, kemudian aku hidup kembali lalu mati dan hidup kembali, sampai tiga kali, itu lebih aku sukai daripada aku melihat aurat seseorang atau melihat  auratku". Sayyidina Ali karramallahu wajhah, dalam hal ini juga mengatakan "Allah mengutuk orang yang melihat aurat orang lain dan yang dilihat auratnya sendiri.

Read More
Pengertian Ukhuwah Insaniyah

Pengertian Ukhuwah Insaniyah

Pengertian Ukhuwah Insaniyah - Ukhuwah Insaniyah, yaitu persaudaraan sesama umat manusia. Manusia mempunyai motivasi dalam menciptakan iklim persaudaraan hakiki dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat universal. Seluruh manusia di dunia adalah bersaudara. Ayat yang menjadi dasar dari ukhuwah seperti ini adalah antara lain lanjutan dari Q.S. al-Hujarat (49): 10, dalam hal ini ayat 11 yang masih memiliki munasabah dengan ayat 10 tadi. Bahkan sebelum ayat 10 ini, Al-Qur'an memerintahkan agar setiap manusia saling mengenal dan memperkuat hubungan persaudaraan di antara mereka.

Khusus dalam Q.S. al-Hujarat (49): 11, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Ayat ini sangat melarang orang beriman untuk saling mengejek kaum lain sesama umat manusia, baik jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Ayat berikutnya, yakni ayat 12, justru memerintahkan orang mukmin untuk menghindari prasangka buruk antara sesama manusia. Dalam tafsir al-Maragi dijelaskan bahwa setiap manusia dilarang berburuk sangka, dan dilarang saling membenci. Semua itu wajar karena sikap batiniah yang melahirkan sikap lahiriah. Semua petunjuk Al-Qur'an yang berbicara tentang interaksi antarmanusia pada akhirnya bertujuan memantapkan ukhuwah di antara mereka.

Baca: Pengertian Ukhuwah islamiyah (Artinya, Bahasa, dan Istilah)

Memang banyak ayat yang mendukung persaudaraan antara manusia harus dijalin dengan baik. Hal ini misalnya dapat dilihat tentang larangan melakukan transaksi yang bersifat batil di antara manusia sebagaimana dalam Q.S. al-Baqarah (2):188, larangan bagi mereka mengurangi dan melebihkan timbangan dalam usaha bisnis sebagaimana dalam Q.S. al-Mutaffifin (48):1-3. Dari sini kemudian dipahami bahwa tata hubungan dalam ukhuwah insaniyah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai kehidupan sejahtera, adil, damai, dan pada intinya konsep tersebyt dalam Al-Qur'an bertujuan untuk memantapkan solidaritas kemanusiaan tanpa melihat agama, bangsa, dan suku-suku yang ada.

Read More